Jamaah juma'at yang
dimulyakan Allah swt
Allah swt telah menetapkan
bahwa semua pujian hanyalah untukNya sebagaimana yang terkandung dalam ayat
pertama surah al-fatihah. Pujian kita terhadap anak-anak, istri, suami, guru,
atasan dan sebagainya seharusnya tujuannya adalah pujian terhadap Allah swt
yang telah menciptakan kesempurnaan semuanya. Kedudukan, kepangkatan, harta,
dan semua yang kita miliki pada hakekatnya merupakan titipan Allah, kita hanya
mempunyai hak pakai saja. Kapan saja bisa diambil oleh Allah sebagai pemilik
yang sebenarnya.
Jamaah yang dirahmati
Allah swt
Kata syukur adalah bentuk mashdar
dari syakara, syaskuru, syukron, wa syukuron, wa syukronan. Kata kerja ini
berakar dengan huruf syin, kaaf, dan ro’. Yang mengandung
makna “pujian atas kebaikan” dan “penuhnya sesuatu”.
Kata syukur dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak
75 kali yang tersebar diberbagai ayat dan surah dalam al-Qur’an. Sementara kata
syukuron disebutkan hanya 2 kali, yakni pada S. Al-Furqon: 62 dan S.
Al-Insan: 9.
Kata syukuron,
pertama kali digunakan ketika Allah swt menggambarkan bahwa Allah yang telah
menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi
pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur
atas nikmat yang diberikan Allah. Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu katsir
berpendapat bahwa Allah yang maha suci menjadikan malam dan siang silih
berganti, dan kejar mengejar, yang kesemuanya
itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hendaknya direnungkan dan
diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur
kepada-Nya.
Kata syukuron ke dua
terdapat dalam surah al-Insan: 9 yakni;
Ayat tersebut menggambarkan
pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada
orang-oang fakir dan miskin yang hanya berharap balasan kecuali hanya mencari ridla
Allah swt. Hal ini pernah dilakukan oleh Sahabat Sayidina Ali dan istrinya,
Siti Fatima (putri rasulullah) memberikan makanan yang sudah dipersiapkan untuk
berbuka puasa dengan anak-anak, tiba-tiba datanglah tiga orang penemis lalu
makanan untuk keluarga tersebut diberikan kepada mereka. Dari sini dapat
dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah didalam siaft-sifat dan mencapi
tingkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti balasan dari orang yang
diberi tersebut.
Jamaah yang
dimulyakan Allah swt
Nikmat yang diberikan Allah
swt kepada manusia sangat banyak dan bentuknya bermacam-macam. Setiap detik
dalam nafas dan langkah kita selalu ada nikmat Allah. Allah berfirman dalam QS
(16:18), “nikmatnya sangat besar dan banyak sehingga bagaimanapun juga manusia
tidak akan dapat menghitungnya”. Selanjutnya dalam QS (16:78) difirmankan bahwa
sejak manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian diberi
Allah pendengaran, penglihatan, dan hati.
Nikmat yang diberikan Allah
kepada kita dapat digolongkan menjadi dua mcama, yaitu; nikmat yang menjadi
tujuan, dan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan. Nikmat yang menjadi
tujuan manusia sesungguhnya adalah kebahagiaan di akhirat, yang ciri-cirinya
antara lain; kekal, diliputi oleh kebahagiaan dan kesenangan yang sejati,
sesuatu yang sangat mungkin dengan mudah dapat dicapai, dan dapat memenuhi
segala kebutuhan manusia. Sedangkan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai
tujuan abadi di atas, diantaranya meliputi; kebersihan jiwa dan akhlak yang
mulian, “kelebihan tubuh” seperti kesehatan, cantik, rupawan, kuat dan lain
sebagainya; hal-hal yang membawa kesenangan jasmaniah seperti harta, kekuasaan,
dan keluarga; dan terakhir adalah hal-hal yang membawa sifat-sifat keutamaan
seperti hidayah, petunjuk, pertolongan dan perlindungan Allah swt.
Jamaah jum’at yang
dirahmati Allah swt
Menurut imam al-Ghazali
bahwa syukur merupakan salah satu derajat (maqam) tertinggi dari sabar, khouf
(takut) kepada Allah swt dan lain-lain. Adapun kesyukuran itu merupakan makam
yang mulia dan pangkat yang tinggi sebagaimana firman Allah swt dalah surah
al-Nahl ayat 114, artinya, “dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kamu
memang hanya menyembah kepada-nya saja”.
Ada tiga cara bersyukur
kepada Allah swt, yaitu;
Pertama, bersyukur dengan
hati, yakni mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang
diperoleh berasal dari Allah swt dan tiada seorangpun selain Allah swt yang
dapatmemberikan nikmat tersebut.
Kedua, bersyukur dengan
lidah, yakni mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat
misalnya, “alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt semata”.
Ketiga, bersyukur dengan
amal perbuatan, yakni mengamalkan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan
memanfaatkan nikmat itusesuai dengan ajaran agama islam.