Bagaimana bisa perahu berjalan melawan angin, jika hanya aku yang mendayung?Sementara,kamu berjalan mengikuti arah mata angin
Ingatlah
heroiknya Ibrahim muda, ia melwan tradisi nenek moyang dan bapaknya dalam menyembah
berhala. Naluri keagamaan Ibrahim a.s membisikkan bahwa berhala bukanlah Tuhan.
Berhala tidak dapat memberi manfaat atau mudlorot
apapun terhadap manusia, bahkan nyatanya manusia-lah yang membuat berhala itu. Ibrahim
a.s juga melakukan pengembaraan pengetahuan ketuhanan, mula-mula asumsi yang
dikembangkan bahwa matahari sebagai tuhan, lalu bulan, bintang-bintang dan
lain-lain, tetapi nyatanya eksistensi semuanya hanya sementara. Oleh karena
itu, Ibrahim a.s kemudian meniadakan semuanya sebagai tuhan. Ia meyakini bahwa kelanggengan eksistensi obyek merupakan
ciri utama ketuhanan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan bersifat
relatif, karenanya tidak layak diyakini sebagai tuhan.
Ibrahim
a.s juga pernah mengalami dillematis,
yaitu saat bermimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail a.s. Di satu sisi, ia
meragukan mimpinya, karena kehadiran anak (Ismail a.s) dalam rumah tangganya
telah ditunggu sangat lama. Bahkan Ibrahim a.s pernah berdoa dan bersumpah
(mengikuti tradisi kaumnya) bahwa jika dikaruniai anak maka akan disembelih
sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatannya terhadap tuhan. Dipihak lain, ia
meragukan bahwa tidak mungkin Tuhan memerintahkannya menyembelih Ismail a.s. Selain
itu, dillematis yang dialami Nabi
Ibrahim a.s yaitu apakah mengikuti perintah mimpi (wahyu) sebagai bentuk
ketaatannya terhadap Tuhan, atau mengesampingkan wahyu karena mebih mencintai
anak (keluarga). Dualisme cinta yang dialami Nabi Ibrahim a.s sesungguhnya
merupakan sumber dillematis
kehidupannya.
Kehidupan
setiap manusia adalah perjalanan yang dimulai dari proses memilih. Pengalaman
penglihatan, pengetahuan akal, pengetahuan oleh penginderaan, dan pengetahuan
dari nurani adalah bagian dari hal-hal yang selalu dipertimbangkan dalam proses
memilih. Sudah jamak dialami bahwa pertimbangan dalam memilih adalah
pengetahuan positifistik, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari penginderaan
dan pengalaman dari banyak orang lain. Perahu yang kita tumpangi selalu
dibiarkan berjalan mengikuti arah mata angin. Bahkan sebagian dari kita lebih
suka mengikuti, meniru dan menjadikan orang lain sebagai modeling dalam hidup
dan kehidupan. Model kehidupan kita adalah kebanyakan orang-orang yang sukses, artis,
tokoh, dan orang-orang yang kita cintai. Ya tentu, sukses dalam makna
indrawiyah. Kita lebih menyukai berjalan dalam keramaian dan sedih dalam
kesendirian.
Arah
mata angin tidaklah abadi, kesuksesan indrawiyah (kekayaan, kepangkatan,
ketenaran) adalah oase, keramaian
selalu diakhiri oleh kesepian, dan rasa apapun dalam pikiran dan hati adalah
sementara. Sesekali mampirlah pada hati nuranimu. Bersenang-senanglah dalam
kesendirian, berbahagialah saat kau dekat dengan hatimu, menangis-bahagialah saat
banyak orang menjauhimu. Itu-lah moment penting yang harus kau nantikan, agar
kau dapat melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan kesalahan sebagai kesalahan.
Keramaian hanyalah fatamorgana, penuh kamuflase dan warna, membutakan
penglihatan, membekukan hati, dan mematikan rasa. Arah mata angin tidak selalu
menunjukkan tujuan hidup yang benar, ia mengandung gaya gravitasi yang luar
biasa kuatnya sehingga dapat menarikmu pada “black hole” di Samudra atlantik.
Sesekali
mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus berteduh pada cortex prefrontalist (CP). Ini adalah
harta terpendam yang dimiliki manusia. Kebanyakan kita mengikuti arah mata
angin yang dianjurkan oleh system limbic (SL),
yang tentu menghancurkan sisi kemanusiaan kita. SL bekerja secara reflek, dan
menyukai “keramaian”, menyukai modelling, dan cenderung mengabaikan hati
nurani. Sekali mampir ke CP maka tetap-kuatlah di sana. CP akan menguatkan hati
nurani, menyuarakan kebenaran hakiki, memilihkanmu pada pilihan hidup yang
benar, dan selalu akan menjadi lentera yang menunjukkan pada arah akal smart kemanusian. Berbeda dengan ahli neuro science, al-Ghozali menyebut CP
dengan istilah qolbun saliim (QS). CP
atau QS adalah titik nadi pusat kemanusiaan yang dapat mencerahkan pada kesadaran
kritis individu (meminjam istilah Pailo Freire), ia berada di depan atas bagian
otak manusia.
Sesekali mampirlah...Tidak
perlu malu jika suatu saat kau harus menangis. Menangis adalah ungkapan
kesedihan, kegembiraan, kerinduan, dan kecintaan. Robi’ah al-Adawiyah setiap
saat menangis, sedih dan takut jika ibadahnya kurang sempurna.
Ketidaksempurnaan ibadah bisa secara lahiriah dan spiritulitas. Seringkali kali
kita mengabaikan, memudahkan, dan menggampangkan, bahkan mencampurkannya dengan
tujuan-tujuan duniawi. Ibadah menjadi tidak tulus, tidak jujur, dan tidak sempurna
secara batiniah. Robi’ah al-Adawiyah mengangis dan beristighfar bukan terhadap
kesalahannya, tetapi dari ketidaksempurnaan ibadahnya, bahkan ia beristighfar
dari istighfarnya (baca: ibadah), kalimatnya yang terkenal adalah, “istighfaaruna yahtaaju ilaa istaghfaarin”.
Menangis karena terlalu mencintai diri agar tidak masuk lubang black hole, menangis karena tidak dapat
memulyakan orang-orang di sekitar, dan menangis karena dirinya belum bermanfaat
bagi orang-orang lainnya.
Sesekali mampirlah...Tidak
perlu malu jika suatu saat kau harus beralih dari ketidak-beragamaan ke
beragama. Sering kita merasa lebih baik dari lainnya dalam beragama; mengikuti
jamaah sholat lima waktu, mengerjakan puasa, dan mengikuti berbagai majlis
taklim dan dzikir tetapi abai pada lainnya. Membiarkan teman jatuh dalam
ketidakberdayaan, tidak peduli pada lingkungan sekitar, lebih merasa aman dari
zona diri sendiri dan Tuhannya. Beragama adalah untuk melembutkan hati,
merendahkan pikir, manyatukan diri dengan Tuhan dan lingkungan sosial
sekitarnya. Beragama adalah untuk menata kebaikan pikir, sikap, dan perilaku.
Dan, beragama adalah untuk menjadikan diri sebagai subyek yang memiliki
kepeduliaan tulus pada diri, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.
Sesekali mampirlah. Tidak
perlu malu jika suatu saat kau harus lebih peduli terhadap intonasi bisikan
intuisimu. Intuisi bersumber dari alam bawah sadar manusia. Ia selalu
membisikkkan hal-hal kecil tetapi sering berdampak luas dari setiap
masalah-masalah yang dihadapi manusia. Sering kita tidak menyadari dan
mengabaikan bisikan itu, dan kemudian hari kita menyadari bahwa bisikan intuisi
itu ternyata jalan keluar dari masalah yang ada. Otak manusia memiliki beberapa
bilik (corner), dua diantaranya yaitu
bagian sadar dan tidak sadar. Otak kiri merupakan bagian otak sadar yang bekerja
lebih lambat, rasional. Ia bekerja berdasarkan fakta, pengalaman, dan kesadaran
pengetahuan obyektif. Sedangkan alam bawah sadar (tidak sadar) diatur oleh otak
kanan yang bekerja lebih cepat. Intiuisi diatur, dan dikendalikan oleh otak bawah
sadar, dan biasanya muncul saat manusia tidak fokur berfikir. Berdasarkan hasil
riset bahwa kebanyakan orang yang sukses terbantu oleh sistem intuisi dalam
setiap pengambilan kepeutusan.
Sesekali mampirlah...terkadang
kita perlu menyendiri dalam kegelapan, menjauhi ramai dan gemerlapnya cahaya. Dalam
diri manusia terdapat dua cahaya, yaitu; cahaya yang bersumber dari dunia
eksternalnya dan cahaya yang bersmber dari dunia internal manausia (hati). Cahaya
yang bersumber dari dunia eksternal sering kali menipu, direkayasa, dan
menyilaukan. Cahaya ini selalu mengagumkan dalam bentuk beragam warna. Semua orang
menyukainya, bahkan dalam perayaan hari tertentu kita sengaja menyalakan warna
warni cahaya, ya semua tampak bahagia, meski terkadang bahagia semu. Sementara,
cahaya yang bersumber dari dunia internal manusia juga bisa komplek, penuh
warna atau sebaliknya. Cahaya ini sangat subyektif, dapat menghadirkan rasa dan
melembutkan pikir. Robi’ah al-Adawiyyah merasa nyaman dan bahagia berada dalam kegelapan
dan kesendirian di bilik tempat sujudnya yang seperti genangan air, tempat itu
selalu dibanjiri air matanya.
Akhirnya, untuk kesekian
kalinya kita lebih senang mampir pada hati kita. Hati kita adalah sumber
pengetahuan hakiki yang selalu menunjukkan jalan kebahagiaan nyata. Hati kita
selalu menerima kita dalam bentuk yang jelek sekalipun, ia selalu mau memaafkan
dan membimbing kita dari kegelapan dalam keramaian kearah keramaian dalam
kegelapan dan kesendirian kita. Hati kita adalah sumber ilmu, sebagaimana
Ibrahim a.s telah menemukan ilmu dan pengetahuan ma’rifatnya sehingga ia lebih
mementingkan cinta kepada Allah swt ketimbang keluarganya. Ini terlihat sadis,
tetapi nyatanya yang disembelih Ibrahim a.s adalah nafsu cinta dunia (hubbu al-dunya). Nafsu inilah yang
merupakan cikal malapetaka diri, keluarga, dan masyarakat, bahkan negara. Baiklah,
yuk sesekali mampir pada hati kita yang terdalam.
