Jumat, 19 Maret 2021

SESEKALI MAMPIRLAH

 Bagaimana bisa perahu berjalan melawan angin, jika hanya aku yang mendayung? 
Sementara,kamu berjalan mengikuti arah mata angin

Ingatlah heroiknya Ibrahim muda, ia melwan tradisi nenek moyang dan bapaknya dalam menyembah berhala. Naluri keagamaan Ibrahim a.s membisikkan bahwa berhala bukanlah Tuhan. Berhala tidak dapat memberi manfaat atau mudlorot apapun terhadap manusia, bahkan nyatanya manusia-lah yang membuat berhala itu. Ibrahim a.s juga melakukan pengembaraan pengetahuan ketuhanan, mula-mula asumsi yang dikembangkan bahwa matahari sebagai tuhan, lalu bulan, bintang-bintang dan lain-lain, tetapi nyatanya eksistensi semuanya hanya sementara. Oleh karena itu, Ibrahim a.s kemudian meniadakan semuanya sebagai tuhan. Ia meyakini bahwa kelanggengan eksistensi obyek merupakan ciri utama ketuhanan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan bersifat relatif, karenanya tidak layak diyakini sebagai tuhan.

Ibrahim a.s juga pernah mengalami dillematis, yaitu saat bermimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail a.s. Di satu sisi, ia meragukan mimpinya, karena kehadiran anak (Ismail a.s) dalam rumah tangganya telah ditunggu sangat lama. Bahkan Ibrahim a.s pernah berdoa dan bersumpah (mengikuti tradisi kaumnya) bahwa jika dikaruniai anak maka akan disembelih sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatannya terhadap tuhan. Dipihak lain, ia meragukan bahwa tidak mungkin Tuhan memerintahkannya menyembelih Ismail a.s. Selain itu, dillematis yang dialami Nabi Ibrahim a.s yaitu apakah mengikuti perintah mimpi (wahyu) sebagai bentuk ketaatannya terhadap Tuhan, atau mengesampingkan wahyu karena mebih mencintai anak (keluarga). Dualisme cinta yang dialami Nabi Ibrahim a.s sesungguhnya merupakan sumber dillematis kehidupannya.

Kehidupan setiap manusia adalah perjalanan yang dimulai dari proses memilih. Pengalaman penglihatan, pengetahuan akal, pengetahuan oleh penginderaan, dan pengetahuan dari nurani adalah bagian dari hal-hal yang selalu dipertimbangkan dalam proses memilih. Sudah jamak dialami bahwa pertimbangan dalam memilih adalah pengetahuan positifistik, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari penginderaan dan pengalaman dari banyak orang lain. Perahu yang kita tumpangi selalu dibiarkan berjalan mengikuti arah mata angin. Bahkan sebagian dari kita lebih suka mengikuti, meniru dan menjadikan orang lain sebagai modeling dalam hidup dan kehidupan. Model kehidupan kita adalah kebanyakan orang-orang yang sukses, artis, tokoh, dan orang-orang yang kita cintai. Ya tentu, sukses dalam makna indrawiyah. Kita lebih menyukai berjalan dalam keramaian dan sedih dalam kesendirian.

Arah mata angin tidaklah abadi, kesuksesan indrawiyah (kekayaan, kepangkatan, ketenaran) adalah oase, keramaian selalu diakhiri oleh kesepian, dan rasa apapun dalam pikiran dan hati adalah sementara. Sesekali mampirlah pada hati nuranimu. Bersenang-senanglah dalam kesendirian, berbahagialah saat kau dekat dengan hatimu, menangis-bahagialah saat banyak orang menjauhimu. Itu-lah moment penting yang harus kau nantikan, agar kau dapat melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan kesalahan sebagai kesalahan. Keramaian hanyalah fatamorgana, penuh kamuflase dan warna, membutakan penglihatan, membekukan hati, dan mematikan rasa. Arah mata angin tidak selalu menunjukkan tujuan hidup yang benar, ia mengandung gaya gravitasi yang luar biasa kuatnya sehingga dapat menarikmu pada “black hole”  di Samudra atlantik.

Sesekali mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus berteduh pada cortex prefrontalist (CP). Ini adalah harta terpendam yang dimiliki manusia. Kebanyakan kita mengikuti arah mata angin yang dianjurkan oleh system limbic (SL), yang tentu menghancurkan sisi kemanusiaan kita. SL bekerja secara reflek, dan menyukai “keramaian”, menyukai modelling, dan cenderung mengabaikan hati nurani. Sekali mampir ke CP maka tetap-kuatlah di sana. CP akan menguatkan hati nurani, menyuarakan kebenaran hakiki, memilihkanmu pada pilihan hidup yang benar, dan selalu akan menjadi lentera yang menunjukkan pada arah akal smart kemanusian. Berbeda dengan ahli neuro science, al-Ghozali menyebut CP dengan istilah qolbun saliim (QS). CP atau QS adalah titik nadi pusat kemanusiaan yang dapat mencerahkan pada kesadaran kritis individu (meminjam istilah Pailo Freire), ia berada di depan atas bagian otak manusia.

Sesekali mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus menangis. Menangis adalah ungkapan kesedihan, kegembiraan, kerinduan, dan kecintaan. Robi’ah al-Adawiyah setiap saat menangis, sedih dan takut jika ibadahnya kurang sempurna. Ketidaksempurnaan ibadah bisa secara lahiriah dan spiritulitas. Seringkali kali kita mengabaikan, memudahkan, dan menggampangkan, bahkan mencampurkannya dengan tujuan-tujuan duniawi. Ibadah menjadi tidak tulus, tidak jujur, dan tidak sempurna secara batiniah. Robi’ah al-Adawiyah mengangis dan beristighfar bukan terhadap kesalahannya, tetapi dari ketidaksempurnaan ibadahnya, bahkan ia beristighfar dari istighfarnya (baca: ibadah), kalimatnya yang terkenal adalah, “istighfaaruna yahtaaju ilaa istaghfaarin”. Menangis karena terlalu mencintai diri agar tidak masuk lubang black hole, menangis karena tidak dapat memulyakan orang-orang di sekitar, dan menangis karena dirinya belum bermanfaat bagi orang-orang lainnya.

Sesekali mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus beralih dari ketidak-beragamaan ke beragama. Sering kita merasa lebih baik dari lainnya dalam beragama; mengikuti jamaah sholat lima waktu, mengerjakan puasa, dan mengikuti berbagai majlis taklim dan dzikir tetapi abai pada lainnya. Membiarkan teman jatuh dalam ketidakberdayaan, tidak peduli pada lingkungan sekitar, lebih merasa aman dari zona diri sendiri dan Tuhannya. Beragama adalah untuk melembutkan hati, merendahkan pikir, manyatukan diri dengan Tuhan dan lingkungan sosial sekitarnya. Beragama adalah untuk menata kebaikan pikir, sikap, dan perilaku. Dan, beragama adalah untuk menjadikan diri sebagai subyek yang memiliki kepeduliaan tulus pada diri, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.

Sesekali mampirlah. Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus lebih peduli terhadap intonasi bisikan intuisimu. Intuisi bersumber dari alam bawah sadar manusia. Ia selalu membisikkkan hal-hal kecil tetapi sering berdampak luas dari setiap masalah-masalah yang dihadapi manusia. Sering kita tidak menyadari dan mengabaikan bisikan itu, dan kemudian hari kita menyadari bahwa bisikan intuisi itu ternyata jalan keluar dari masalah yang ada. Otak manusia memiliki beberapa bilik (corner), dua diantaranya yaitu bagian sadar dan tidak sadar. Otak kiri merupakan bagian otak sadar yang bekerja lebih lambat, rasional. Ia bekerja berdasarkan fakta, pengalaman, dan kesadaran pengetahuan obyektif. Sedangkan alam bawah sadar (tidak sadar) diatur oleh otak kanan yang bekerja lebih cepat. Intiuisi diatur, dan dikendalikan oleh otak bawah sadar, dan biasanya muncul saat manusia tidak fokur berfikir. Berdasarkan hasil riset bahwa kebanyakan orang yang sukses terbantu oleh sistem intuisi dalam setiap pengambilan kepeutusan.

Sesekali mampirlah...terkadang kita perlu menyendiri dalam kegelapan, menjauhi ramai dan gemerlapnya cahaya. Dalam diri manusia terdapat dua cahaya, yaitu; cahaya yang bersumber dari dunia eksternalnya dan cahaya yang bersmber dari dunia internal manausia (hati). Cahaya yang bersumber dari dunia eksternal sering kali menipu, direkayasa, dan menyilaukan. Cahaya ini selalu mengagumkan dalam bentuk beragam warna. Semua orang menyukainya, bahkan dalam perayaan hari tertentu kita sengaja menyalakan warna warni cahaya, ya semua tampak bahagia, meski terkadang bahagia semu. Sementara, cahaya yang bersumber dari dunia internal manusia juga bisa komplek, penuh warna atau sebaliknya. Cahaya ini sangat subyektif, dapat menghadirkan rasa dan melembutkan pikir. Robi’ah al-Adawiyyah merasa nyaman dan bahagia berada dalam kegelapan dan kesendirian di bilik tempat sujudnya yang seperti genangan air, tempat itu selalu dibanjiri air matanya.

Akhirnya, untuk kesekian kalinya kita lebih senang mampir pada hati kita. Hati kita adalah sumber pengetahuan hakiki yang selalu menunjukkan jalan kebahagiaan nyata. Hati kita selalu menerima kita dalam bentuk yang jelek sekalipun, ia selalu mau memaafkan dan membimbing kita dari kegelapan dalam keramaian kearah keramaian dalam kegelapan dan kesendirian kita. Hati kita adalah sumber ilmu, sebagaimana Ibrahim a.s telah menemukan ilmu dan pengetahuan ma’rifatnya sehingga ia lebih mementingkan cinta kepada Allah swt ketimbang keluarganya. Ini terlihat sadis, tetapi nyatanya yang disembelih Ibrahim a.s adalah nafsu cinta dunia (hubbu al-dunya). Nafsu inilah yang merupakan cikal malapetaka diri, keluarga, dan masyarakat, bahkan negara. Baiklah, yuk sesekali mampir pada hati kita yang terdalam.

Selasa, 16 Februari 2021

Pengetahuan, dan Niat untuk Sukses

 


Motive berprestasi merupakan salah satu faktor penting untuk meraih sukses studi. Untuk itu, orang tua dan guru perlu usahakan iklim yang kondusif. 16/02/2021. @Prof. Rochmat Wahab

Niat (intention), dalam konsep Islam merupakan unsur penting dalam suatu perbuatan (perilaku). Perbuatan baik yang tidak disertai niat tidak akan memiliki nilai. Oleh karena itu, dalam melakukan perbuatan baik (amal sholeh) hendaknya diawali dengan niat untuk mencari ridlo Allah swt. Allah swt, sesungguhnya merupakan tujuan tertinggi dalam hidup dan kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan tertinggi ini diperlukan tujuan-tujuan antara sesuai situasi dan kondisi kehidupan manusia. Misalnya makan, tujuannya adalah agar badan kita menjadi sehat. Sehat dapat menjadi kunci untuk melaksanakan ibadah-ibadah dan amal sholeh lainnya secara maksimal. Maksimal atau berkualitasnya amal sholeh merupakan tujuan antara, agar mencapai ridlo Allah swt. Dengan demikian, tujuan antara dalam kehidupan ini sejatinya adalah dalam rangka untuk mencapai tujuan tertinggi, yaitu Allah swt.

Tujuan-tujuan dalam setiap perbuatan seseorang merupakan kondisi terakhir dari aktualisasi suatu niat. Bentuk eskpresi niat ada dua, yaitu; niat yang dipendam dalam hati, dan niat yang diucapkan dalam suara. Kedua ekspresi niat ini diperlukan untuk menguatkan langkah dan aktualisasi perbuatan baik. Setiap perbuatan yang dilandasi dengan niat, maka perbuatan tersebut biasanya dilaksanakan secara terstruktur. Sementara, setiap perbuatan yang dilaksanakan tanpa didasari dengan niat, maka biasanya perbuatan tersebut terlaksana secara tidak beraturan. Dengan demikian, niat memegang fungsi kunci tercapainya tujuan perbuatan secara efektif dan efisien. Disinilah, diantara maknanya hadits yang menjelaskan tentang pentingnya niat dalam setiap perbuatan seseorang. Baik, niat (intention) terucapkan maupun sirri sama-sama penting, untuk menguatkan hati dalam mencapai tujuan perbuatan.

Intensi (niat) merupakan indikator seberapa kuat usaha seseorang atau berapa banyak usaha yang dilakukan untuk menunjukkan suatu perbuatan (Ajzen, 2005). Lebih lanjut, Ajzen mengungkapkan bahwa faktor penting terbentuknya niat adalah sikap. Sikap merupakan kecendrungan untuk berekasi secara afektif. Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari dan bagaimana seseorang berekasi terhadap situasi serta menetukan apa yang dicari dalam kehidupan (Slameto, 2003). Selain itu, sikap juga dapat dimaknai sebagai bentuk evaluasi atau reaksi seseorang terhadap suatu obyek, apakah kemudian ia memihak atau menolak, baik pada tataran perasaan, pemikiran, dan tindakan (Saifudin, 2005). Oleh karena itu, sikap adalah hal penting yang dapat dilihat dan ditafsirkan untuk memprediksi niat perbuatan seseorang. Selain itu, bahwa sikap adalah bentuk ekspresi dari pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek.

Apapun sikap seseorang terhadap suatu obyek selalu didasarkan pada pengetahuannya terhadap obyek tersebut. Disinilah letak pentingnya, mengapa Islam menempatkan usaha manusia untuk mengetahui obyek (belajar, menuntut ilmu). Hal pertama kali yang dilakukan Allah swt setelah keinginan-Nya untuk menjadikan Adam a.s sebagai khalifah di bumi adalah mengajarkan nama-nama benda (QS. Al-Baqarah/2: 31-32). Pengetahuan tentang benda-benda disekitar Adam a.s akan menjadikannya dapat menyusun unsur-unsur dan senyawa yang dihamparkan Allah swt di bumi ini untuk kelangsungan hidup dan kehidupan. Wahyu yang pertama dari Kenabian Muhammad saw adalah perintah membaca (iqra’) (QS al-‘Alaq/96: 1-5). Membaca dan memiliki pengetahuan adalah esensi dalam kesejatian muslim. Kualitas keislaman seseorang ditentukan oleh seberapa kuat usahanya untuk menuntut ilmu (belajar).   

Pengetahuan yang komprehensif tentang suatu obyek akan menentukan sikap seseorang untuk menerima atau menolak kondisi obyek. Dari pengetahuan yang baik inilah terhadap suatu obyek akan melahirkan sikap menyukai atau tidak menyukai obyek tersebut. Sikap menyukai atau tidak menyukai selanjutnya menuntun niat (intention) seseorang terhadap obyek. Sementara, niat (intention) menjadi tonggak lahirnya kecenderungan (motive) untuk merealisasikan obyek tersebut dalam hidup dan kehidupannya. Motive, tidak akan dimiliki oleh seseorang yang tidak memiliki pengetahuan, sikap, dan niat untuk merealisasikannya. Niat (intention) yang tidak didasarkan pada pengetahuan tentang suatu obyek, maka kualitas motive-nya sangat lemah. Sedangkan niat (intention) yang didasarkan pada pengetahuan yang komprehensif terhadap suatu obyek, maka kualitas motive-nya sangat kuat/tinggi.

Disinilah letak rahasianya, mengapa Islam menempatkan orang yang mau belajar (menuntut ilmu, belajar al-Qur’an) sebagai orang yang paling utama. “Dari Utsman bin Affan, ia berkata; Nabi Muhammad saw bersabda, orang yang paling utama diantara kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR, Bukhari). Nomor 4640 shahih. Usaha untuk mengetahui suatu obyek secara komprehensif merupakan esensi ajaran Islam. Memiliki pengetahuan yang baik terhadap suatu obyek, akan menuntun keyakinan (keimanan) seseorang  untuk mencapai tujuannya (tujuan antara dan/atau tujuan tertinggi) dengan baik. Dengan demikian, apapun keinginan kita terhadap suatu obyek jika didasarkan pada pengetahuan tentangnya, maka keinginan tersebut akan diusahakan secara sunguh-sungguh, maksimal, disiplin, dan terstruktur.

Menurut teori achievement motivation bahwa seseorang yang memiliki kebutuhan (need) untuk mencapai hasil (prestasi) yang kuat, maka ia akan mudah mencapainya (McClelland, 2005). Berbagai indikasi seseorang dengan need for achivement (n-ach) tinggi lebih memilih mengambil resiko yang memiliki peluang sukses. Seseorang dengan n-ach tinggi memiliki keinginan yang kuat untuk mengambil tanggung jawab pribadi untuk melaksanakan tugas, dan cenderung untuk menetapkan tujuan yang sulit, serta memiliki keinginan untuk mendapatkan umpan balik bagi kinerjanya. Seseorang yang memiliki motivasi kuat untuk sukses, baik dalam belajar maupun bekerja, maka cenderung ia melakukannya secara sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam suatu usaha ditentukan oleh beberapa unsur, diantaranya; memiliki niat (intention) kuat, bertindak efektif, berkolaborasi, berfikir positif, dan bersikap proaktif.

Berfikir, bersikap, dan bertindak positif haruslah didukung oleh faktor eksternal yang baik. Faktor eksternal seseorang yang berpengaruh cukup signifikan, diantaranya adalah lingkungan keluarga, tempat belajar/bekerja, dan lingkungan pergaulan. Meminjam teorinya Berns (2004) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap karakter dan/atau motive seseorang adalah microsystems, mesosystems, exosystems, dan macrosystems. Dalam konteks belajar, misalnya orang tua, sekolah dan masyarakat perlu mengusahakan situasi dan kondisi lingkungan sosial yang baik bagi tumbuh kembangnya motive-motive yang baik bagi setiap individu anak. Orang tua perlu menciptakan lingkungan sosial pembelajar di rumah. Menciptakan suasana rumah yang mendukung keinginan anak untuk selalu membaca, misalnya menyediakan variasi sumber bacaan, menentukan dan mentaati bersama jam-jam belajar anak, dan menunjukkan sikap dan perilaku yang proaktif belajar.

Sekolah perlu mengusahakan suasana dan kondisi yang aman, nyaman, aman, dan menyenangkan bagi proses belajar anak. Belajar hakikatnya adalah usaha menumbuh-kembangkan dan memaksimalkan potensi-potensi anak. Setiap anak memiliki potensi dan karakter yang berbeda, untuk itu perlakukan terhadapnya juga harus unik dan beragam. Memang ini tidak mudah, apalagi dalam suasana persekolahan di Indonesia yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk kepentingan pragmatisme. Pengelolaan persekolahan yang cenderung dikendalikan oleh pusat, baik pada tataran kebijakan sampai pada tataran teknis di lapangan. Menggeneralisasi masalah-masalah persekolahan oleh Kementrian yang begitu kuat, sehingga mematikan daya kreatifitas dan inovasi pemerintah daerah dan kepala sekolah. Seharusnya, wilayah Kementrian adalah wilayah kebijakan, sementara pemerintah daerah dan kepala sekolah adalah wilayah implementor secara otonom sesuai dengan situasi kondisi lingkungan sosial sekolah masing-masing.

Kementrian pendidikan jangan hanya fokus pada kebijakan dan mengontrol persekolahan. Hendaknya ada kolaborasi kebijakan dengan kementrian lainnya agar tercipta suasana lingkungan sosial di masyarakat yang baik. Kerjasama antar tokoh agama, pendidikan, pengusaha, politkus, dan budayawan adalah mutlak diperlukan. Memang ini kondisi ideal, dan tidak mudah, karena setiap tokoh-tokoh di masyarakat memiliki tujuan, keinginan, dan harapan yang berbeda. Cara yang termudah adalah jadilah orang tua yang bijak. Bijak dalam memilihkan lingkungan sosial pergaulan anak, bijak dalam menciptakan suasana dan kondisi keluarga yang mendukung  anak menjadi pembelajar. Tidak membiarkan kondisi eksternal sosial anak mengendalikan kita, tetapi justru kita-lah yang mengendalikan dan menontrol lingkungan sosial eksternal untuk memuluskan dan menjadikan anak-anak memiliki karakter pembelajar sehingga potensi-potensinya berkembang dengan baik.

Daftar Pustaka

Ajzen, I. (2005). Attitudes, Personality And Behaviour. New York. Open University Press.

Berns, Roberta M. (2004). Child, family, school, community. Socialization and support (sixth edition). Australia. Thomson wadsworth

McClelland, David. (2005). Achievement motivation theory. Organizational behavior: Essential theories of motivation and leadership, 46-60.

Saifudin, A. (2005). Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Minggu, 31 Januari 2021

Bergerak dalam Kesunyian

 Hukum alam (sunnatullah) berjalan mengikuti prinsip kausalitas. Semua pikiran, ucapan, sikap, dan tindakan seseorang akan kembali padanya. Prinsip kausalitas mengikuti model pantulan cermin. Ketika kita menanam kebaikan, maka akan menuai kebaikan. Sebaliknya, ketika kita menanam keburukan, juga akan menuai keburukan pula. Kebaikan dan keburukan tidak memantul kepada jasad manusia, tetapi kepada jiwa (ruh). Dengan demikian, ada seseorang yang selalu menanam keburukan tetapi kehidupannya terlihat baik-baik saja. Dan, sebaliknya ada orang selalu menanam kebaikan tetapi kehidupannya mengalami kesulitan.

Kehidupan jasad manusia terbatas oleh waktu dan tempat, sementara keberadaan jiwa tidak terbatas oleh keduanya. Pantulan kebaikan dan keburukan selalu kembali, jika tidak pada saat masih bersatunya antara jasad dengan jiwa, maka pasti ia akan memantul pada saat jasad dan jiwa telah berpisah (kematian jasad). Jasad hanyalah asesoris, sementara jiwa adalah eksistensi. Fokus pada pemenuhan asesoris hanya akan menghabiskan waktu, energi, dan, tidak akan mendapatkan apapun, karena akhirnya ia akan tiada. Sementara, jika kita fokus pada pemenuhan eksistensi, maka akan menemui kebahagiaan.

Funniwati Sucipto adalah satu diantara jutaan manusia yang menjadikan spiritualitas agama sebagai energi untuk bergerak menanam karma kebaikan dalam kesunyian. Ia memahami, menghayati, dan menyadari realitas spiritualitas tersebut di atas sebagai karma. Setiap orang memiliki karma, yakni karma baik atau buruk. Karma selalu memantul pada jiwa yang bersangkutan. Karma melihat kita bukan sebagai manusia, tetapi sebagai jiwa, dan tidak pernah gagal menemukan orang dari mana asalnya. Oleh karena itu, selalu mencapainya dan memberinya hasil yang sama beberapa hari, tahun atau kapanpun pada waktu-waktu kemudian.

Titik awal perjalanan spiritualitas Funni adalah pada saat ia merasakan matanya hampir buta. Dokter memvonis pembuluh darah mata kanannya pecah. Funni, menceritakan bahwa suatu ketika kedua matanya tertutup total, tidak bisa melihat dan bekerja lagi. Pada saat terpuruk itu, terdapat dua hal yang menyadarkannya. Pertama, teman-temannya menasehati bahwa ini adalah saat karma sudah berbuah, maka memperbanyak kebaikan pada sesama adalah jalan untuk merubah karma. Kedua, dalam kondisi terpuruk itu, kedua orang tuanya selalu membantu pengobatannya. Dia merasa bersalah, mengapa? Ia berfikir, “seharusnya orang yang berambut hitam tidak boleh hidup dalam belas-kasihan orang yang sudah berambut putih, yakni ibu”.

Pada saat kelopak putih matanya disuntik oleh oleh dokter, ia tidak berasa sakit. Justru ia membayangkan pada saat itu bejalan di hutan yang sangat sunyi. Dalam kesunyian di hutan itu, ia dapat mendengar rintihan dan penderitaan orang-orang yang tidak mampu, dan membutuhkan pertolongan. Ia semakin sadar bahwa bergerak (karma) dalam kesunyian adalah takdir yang harus dijalankan. Pemaknaan karma Funni ini, memberikan pembelajaran bagi kita semua bahwa bisikan jiwa dalam kesunyian adalah kebenaran, dan selalu menghantarkannya untuk berbuat baik.

Pengobatan, kemo, dan suntik secara rutin di dalam negeri belum berbuah hasil yang baik. Mata kanan Funni semakin memburuk, mengalami perdarahan berkali-kali. Jalan satu-satunya harus dioperasi. Ia berusaha berobat ke bangkok, dan terakhir di Singapura. Dokter menyarankan segera dioperasi, kalau tidak akan terjadi komplikasi yang lebih parah. Resikonya, selain terus mengalami perdarahan, juga mengakibatkan retina matanya lepas (saat itu sudah seperempat yang lepas). Dokter meyakinkan bahwa 95% operasi akan berhasil. Sebagai karyawan, tentu ia tidak memiliki biaya operasi, karena kebaikan semua teman-temannya diberbagai media sosial, ia mendapatkan bantuan untuk biaya operasi sekitar Rp. 210 juta. Kini mata Funni kembali sehat.

Ia sadar, bahwa ini adalah takdir. Baginya takdir bisa dirubah dengan melakukan suatu kebaikan (karma). Kesadaran spiritualitas ini membuka mata hatinya, dan berdoa kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk berbagi pada sesama. Pada tahun 2015, ia memulai usaha pempek funny. Ia mengambil keuntungan Rp. 1000,-. Rp. 500,- dari keuntungan tersebut ia gunakan untuk membantu oarang-orang yang sedang membutuhkan. Pertama kali, tahun 2015 dari keuntungan berdagang itu ia mengundang anak-anak jalanan, 30 anak untuk berbuka puasa bersama. Ia merasa bahagia, Tuhan telah menjawab doanya, diberi kesempatan untuk berbagi pada sesama.

Semakin lama usaha Funni dikenal oleh masyarakat. Banyak yang menjadi relawan dan berdonasi untuk gerakan berderma Funni ini. Saat artikel ini ditulis, follower IG-nya (pempek_funny) berjumlah 86,6 ribu. Funni berhasil membangkitkan energi positif dari keterpurukannya, ia menjadi inisiator dan menginspirasi banyak orang untuk selalu berbagi pada sesama. Sampai saat ini, gerakannya berhasil menyalurkan milliaran rupiah kepada orang-orang yang sakit. Ia juga telah membeli sebuah ambulan yang peruntukkan bagi para lansia dan orang-orang yang tidak mampu secara gratis. Bahkan, ia juga membangun rumah singgah untuk orang-orang luar kota yang sedang berobat di Jakarta.

Kebaikan yang dilakukan Funni melahirkan sejuta energi positif. Menjelma menjadi gerakan bersama kebaikan di Indonesia untuk semua orang. Kesedihan dan kebahagiaan selalu silih berganti hadir dalam sandiwara kehidupan manusia. Dan, rasa kemanusiaan yang didasarkan pada ketakwaan kepada Tuhan akan melahirkan perilaku baik pada semua orang, yang melintasi batas-batas geografi dan agama. “Bantulah orang-orang dengan hati yang benar, karena hanya karma yang baik yang bisa menolong kamu di saat kamu susah”. Tegas Funni.

Energi positif tidak hanya mengalir menggerakkan rasa kemanusiaan, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi di kampung. Usaha Funni mendorong tumbuhnya usaha ekonomi pempek di kampungnya, Lubuk Linggau. Tidak hanya saudara-saudaranya yang berkembang usahanya melalui pasar yang dikembangnya, tetapi juga pengusaha pempek lainnya di kampung. Bahkan, beberapa artis membantu meng-endors pempek_funni. Relawan yang membantu memasarkan pempek_funni dan berderma semakin banyak. Akhirnya, Funni telah berhasil memaknai kesedihan, dan kesulitan sebagai jalan spiritualitas Budhis dalam mengembangkan semangat hidup bagi semua orang.

Jumat, 29 Januari 2021

Si Anak TPA jadi Milliarder

Edisi tulisan saya kali ini dan beberapa edisi berikutnya, mengangkat tema “bangkit dari keterpurukan”. Ketertarikan menulis tema ini adalah agar secara pribadi menjadi energi positif, dan bermanfaat untuk semua orang. Prinsip yang perlu kita tanamkan pada diri sendiri bahwa fokus pada tujuan adalah penting, karena semua akan indah pada waktunya.

Setiap makhluk dan semua planet di muka bumi ini berjalan sesuai dengan poros atau porsinya masing-masing. Poros masing-masing individu sudah ditetapkan. Jika ia disiplin pada poros dan berotasi sesuai kodrat potensi kemanusiaannya, maka ia akan mencapai puncak keindahan diwaktu yang mungkin berbeda antara individu satu dengan individu lainnya. Tetapi, sebaliknya apabila ia keluar dari porosnya, maka ia akan terpelanting dan jatuh.

Esra Manurung adalah sosok pribadi yang patut dijadikan inspirasi. Ia dilahirkan dari kelurga miskin, bapaknya supir angkot. Rumahnya saat itu dekat dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, di Cilincing, Jakarta. Ibunya meninggal saat ia berusia 18 tahun. Bapaknya kehilangan keseimbangan dan meninggalkannya dengan 4 adik-adiknya. Dalam pikirannya, ia harus meneruskan atau mengakhiri hidup bersama adik-adiknya. Ia merasa betul-betul jatuh terpuruk.

Pikirannya, saat itu, selalu menyuruh untuk bunuh diri, tetapi ia merasa kasihan pada adik-adiknya. Dia, juga benci Tuhan. Baginya, Tuhan tidak ada, dia merasa sendiri dalam keterpurukan. Dia juga benci pada bapaknya, yang begitu saja meninggalkan dirinya dan adik-adiknya tanpa kabar yang jelas. Dia berada pada titik, mengakhiri hidup atau membantu adik-adiknya.

Untung, dia memiliki tante yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Meskipun tantenya juga miskin, tetapi kadang masih bisa berbagi dengan dia dan adik-adiknya. Esra selalu mengingat pesan ibunya dan menjadi prinsip keluarga, yaitu hidup miskin harus tetap belajar (sekolah) dan ingat Tuhan. Dua prinsip ini yang menjadi lentera dan oase hidupnya.

Esra, tetap melanjutkan kuliah di Universitas Kristen Jakarta. Untuk menopang semua kebutuhan hidupnya, dia mulai jualan jepitan rambut, mengajar les privat keliling semua penjuru Jakarta. Usaha demikian masih belum cukup untuk membiayai kebutuhan primer diri  dan adiknya-adiknya. Lagi-lagi, dia masih terbersit untuk mengakhiri hidup, bunuh diri. Dia masih benci dengan Tuhan.

Setelah lama menghilang, ada kabar baru, bapaknya mau kembali dengan istri barunya, dan dua anaknya. Esra masih dendam dan benci bapaknya. Lagi-lagi, dia ingin mengakhiri hidupnya. Tetapi dia ingat pesan ibunya untuk tetap ingat Tuhan. Saat itulah, dia kembali membuka al-kitab. Pesan pertama yang dia baca agar memaafkan. Dia sadar, bapaknya hanya melakukan satu kesalahan, mengapa tidak dimaafkan saja. Akhirnya, dia memaafkan bapaknya.

Lentera menyala kembali, saat ia menang dalam lomba karya tulis ilmiah, kemudian mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Dia terus menebar kebaikan dan mengajar les privat keliling. Saat menjelang akhir kuliah, ada orang tua/wali murid yang baik. Setelah lulus kuliah, dia diajak bekerja di sebuah bank. Pekerjaan di bank ini ia tekuni selama 9 tahun, ia merasa jenuh, dan memutuskan keluar.

Dia mengikuti pandangan suaminya bahwa bekerja jangan mencari uang, tetapi bekerja untuk belajar. Akhirnya, ia menerima saran suaminya untuk bekerja di asuransi. Dia merasa bebas, dapat terus belajar, dan dapat mengatur kerjanya sebagai agen asuransi. Di perusahaan asuransi inilah, dia sukses, dan menerima penghargaan dari asosiasi asuransi dunia sebagai ambassador million dollar round table. Keren, dia sekarang menjadi pemateri di Amerika, Eropa, dan kota-kota di Indonesia.

Metamorfosis yang dialami Esra keren banget. Selain milliarder, dia menjadi penulis, dan mendirikan sebuah yayasan maharani kirana pertiwi di Cilincing, Jakarta. Yayasan ini fokus memberdayakan ibu-ibu untuk menjadi ibu rumah tangga, istri, dan wanita karir, sebagaimana makna namanya, yaitu perempuan yang unggul menjadi cahaya bangsa. Semoga akan bermunculan Esra dan Esra lainnya. 👧

Kamis, 28 Januari 2021

Polarisasi Pengabdian Dosen


Segala puji bagi Allah swt, dzat yang memiliki alam semesta beserta isinya. Mudah-mudahan kita semua selalu mendapat bimbingan-Nya, dan dapat meneladani Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw telah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berkarya mengembangkan potensi diri dan potensi alam semesta. Sebagaimana sabdanya, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Karena alam semesta dihamparkan oleh Allah swt agar menusia memanfaatkannya sebagai media atau laboratorium bagi manusia untuk memaksimalkan potensi tugas utamanya sebagai khalifah dan pemakmur bumi ini.

Allah swt pertama kali mengajarkan nama-nama benda (kata benda) kepada Nabi Adam as memiliki makna bahwa dengan mengenali semua benda-benda di alam semesta ini akan menjadikan manusia mampu menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjadi pemakmur bumi memiliki arti hendaknya manusia dapat menemukan sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi diri dan komunitasnya. Oleh karena itu, mengajarkan kata benda agar manusia dapat mengemban tugas menjadi pemakmur bumi. Potensi, kemampuan, dan pengalaman langsung dari Allah swt demikian ini tidak dimiliki oleh bangsa Jin dan Malaikat. Mengapa? Ya karena Allah swt tidak menghendaki Jin dan Malaikat sebagai khalifah di bumi.

Tugas manusia adalah menyatukan unsur-unsur benda yang telah dihamparkan Allah swt, baik sebagai pengetahuan maupun teknologi untuk mendukung tercapainya tugas utamanya, memakmurkan bumi. Sangat banyak sekali benda-benda yang telah diajarkan kepada Nabi Adam as dan umat manusia, mulai dari bakteri dan/atau virus sampai yang tampak oleh panca indera manusia. Agar dapat menyatukan, meningkatkan nilai atau bermanfaat, maka manusia harus terus mempelajari, memahami, dan meneliti, serta mengimplementasikannya di masing-masing komunitas. Misalnya, dalam QS. Al-Anbiya/21: 30, Allah swt menjelaskan tentang awal mula kejadian alam semesta. Disitu dijelaskan pemisahan langit dan bumi diikuti oleh berhamburnynya  unsur-unsur kimiawi dan biologi. Di akhir ayat tersebut, Allah swt menekankan agar manusia melakukan penelitian untuk menyatukan semua unsur-unsur tersebut sehingga menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setiap manusia memiliki potensi dan keterbatasan. Keluasan potensi yang dimiliki manusia bersifat terbatas. Terbatas oleh waktu, terbatas oleh potensi yang dimiliki oleh individu-individu lainnya. Dan, terbatas oleh ruang lingkup kemampuannya. Misalnya ada individu yang memiliki kepandaian, tetapi hal demikian juga dibatasi oleh kepandaian individu lainnya. Temuan individu dibatasi juga oleh temuan individu lainnya, atau dibatasi oleh waktu. Relatifitas kemampuan, ilmu pengetahuan dan teknologi meniscayakan pentingnya kerjasama antara individu satu dengan individu lainnya. Kerjasama demikian memungkinkan berkembangnya potensi individu, juga berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang diharapkan bermanfaat bagi kemakmuran manusia dan alam semesta.

Ada tiga subyek kerjasama, yaitu; kerjasama antara individu satu dengan individu lain, individu dengan masyarakat (komunitas), dan antara komunitas satu dengan komunitas lainnya. Berkembangnya beragam subyek-subyek yang melakukan kerjasama membantu mempercepat, dan mempermudah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemakmuran bumi. Dosen, yang memiliki tugas utama tri darma perguruan tinggi dapat memanfaatkan keniscayaan kerjasama demikian dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kemampuan akademik, riset, dan network yang ada di perguruan tinggi dapat membantu mengakselerasi tujuan pembangunan. Kemampuan konseptual dan teoritik di kalangan dosen perlu diimplementasikan melalui kerjasama pengabdian dosen dengan kelompok-kelompok (komunitas) di masyarakat.

Pola pengabdian selama ini yang dilaksanakan oleh para dosen di IAIN Tulunggaung dapat dipolakan menjadi dua, yaitu; Pertama, peningkatan keyakinan dan pengetahuan keagamaan. Kedua, peningkatan kemampuan ketrampilan. Bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan keyakinan (teologi) dan pengatahuan keagamaan diantaranya adalah ceramah, pengajian, khutbah, dan seminar.  Sedangkan, bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan ketrampilan diantaranya pendidikan dan pelatihan (diklat); misalnya pengolahan limbah untuk mendukung ekonomi keluarga dan kebersihan lingkungan, beternak , pemanfaatan kain perca, dan ketrampilan khusus untuk meningkatkan performance profesi. Kedua pola pengabdian dosen ini sebenarnya merupakan pendalaman dan implementasi pengetahuan teoritik masing-masing dosen dan bentuk respon situasi eksternal lingkungan sosialnya.

Mengajar, meneliti, dan mengabdi merupakan satu kesatuan tugas utama dosen. Melaksanakan kuliah di kampus merupakan kegiatan pengembangan teoritik dan konseptual, kegiatan ini murni akademik. Melakukan penelitian merupakan upaya penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diharapkan mampu menjadi sumber rujukan/data untuk memperkuat, dan/atau mengganti teori-teori yang diajarkan kepada para mahasiswa di kampus. Sedangkan, melaksanakan pengabdian merupakan bentuk implementasi dari hasil penelitian, dan juga dapat dijadikan rujukan pembelajaran di kampus. Dengan demikian, ketiga unsur tri darma perguruan tinggi ibarat tiga muka dimensi piramida. Keberadaan satu muka menyempurnakan piramida tersebut. Hilangnya satu unsur tri darma perguruan tinggi ini menyebabkan eksistensi dosen tidak sempurna.

Belum banyak dosen yang bersedia melaksanakan secara seimbang dan terintegrasi dianatara tiga unsur tri darma perguruan ini. Untuk itu, lembaga terus mendorong dan mensupport dalam bentuk program dan penganggaran. Dukungan anggaran pengabdian dosen diperuntukkan untuk dosen-dosen di masing-masing program studi (prodi). Dukungan ini dimaksudkan selain untuk meningkatan kemampuan, ketrampilan dan network dosen, juga dimaksudkan untuk mendekatkan prodi-prodi dengan masyarakat.  Kedekatan antara prodi/lembaga perguruan tinggi dengan masyarakat dapat meningkatkan dampak positif keberadaan perguruan tinggi di masyarakat. Karena, pada dasarnya hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat bersifat resiprokal. Keberadaan perguruan tinggi hendaknya bermanfaat untuk kebaikan masyarakat, dan keberadaan masyarakat dapat dijadikan sebagai laboratorium untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi dan profesionalitas para dosen.

IAIN Tulungagung berusaha terus mendorong para dosen untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, baik secara perorangan maupun berkelompok, atau bergabung dengan lembaga-lembaga profesi dan/atau lembaga swadaya masyarakat. Bergabungnya dosen dengan lembaga-lembaga di luar IAIN Tulungagung  yang fokus melakukan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berfungsi untuk mengasah dan meningkatkan ketrampilan dan profesional dosen. Untuk itu, dukungan IAIN Tulungagung, khususnya di fakultas ushuludin adab dan dakwah (FUAD) terus dilakukan oleh pimpinan, baik dalam bentuk penganggaran, support program, dukungan ketrampilan teknis, maupun pengembangan dan pengayaan gagasan. Sasaran dari supporting demikian, selain pada umumnya ditujukan agar berdampak pada masyarakat, khususnya juga untuk meningkatkan ketrampilan profesionalitas dosen.

Dukungan pimpinan fakultas tidak hanya pada level perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program pengabdian dosen, tetapi juga mendorong penerbitan buku hasil pengabdian dosen. Usaha demikian dimaksudkan untuk; menumbuhkan ketrampilan literasi, mewariskan budaya pengabdian dan penulisan kepada generasi penerus di fakultas, dan desiminasi best parcatice pengabdian dosen ke publik. Pimpinan secara khusus mengucapkan terimaaksih kepada para dosen yang terus mendedikasikan pikiran, tenaga, dan profesionalitasnya untuk pengembangan fakultas, juga kepada sdr. Dr. Ngainun Naim yang tidak mengenal lelah mengembangkan budaya literasi, khususnya pada para dosen muda di fakultas ushuludin adab dan dakwah (FUAD), IAIN Tulungagung. Kami berharap, semoga buku pertama kumpulan hasil pengabdian para dosen ini bermanfaat dan menginspirasi untuk terus melakukan kebaikan di masyarakat.



 

Senin, 25 Januari 2021

Jadilah future practice, bukan best practice.

       Sejak dekade 66-an Cooleman, dari hasil penelitiannya mengungkapkan school dasn’t travel. Tidak mungkin sekolah-sekolah yang baik, bermutu, atau efektif dapat dicangkok ke sekolah-sekolah lain (schools cannot be grafted). Ada banyak faktor, mengapa suatu sekolah, lembaga, atau seseorang itu sukses. Sampai sekarang saya masih menyangsikan program sekolah penggerak, apalagi dengan jargon belajar dari lembaga-lembaga yang memiliki best practice. Belajar pada pihak lain yang lebih dulu sukses hanya akan menjadikan diri kita, lembaga kita sebagai followers.

Tidak banyak followers yang sukses, dan menjadi yang terdepan. Apalagi, kehidupan selalu tidak bisa diprediksi, karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat dinamis. Oleh karena itu, kita harus menciptakan, bukan followers. Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln pernah mengatakan, “the best way to predict the future is to creat it”. Cara terbaik memprediksi masa depan ya, menciptakannya. Maka, tinggalkanlah menjadi followers jika ingin sukses.

Di kalangan masyarakat juga ada istilah amati, tiru, dan modifikasi (ATM). Lha ini apalagi. Lihat saja, mereka yang berhasil bukan meniru-niru dan memodifikasi, tetapi membuat sesuatu yang berbeda dan futuristic. Misalnya facebook, wa, grab, alibaba, dll. Membuat sesuatu yang unik atau tidak banyak dilakukan oleh orang juga perlu dipertimbangkan. Contohnya XXLAB berhasil menyulab air limbah tahu menjadi sepatu dan produk fashion lainnya. Keuinikan dan kreatifitasnya mengantarkannya mendapatkan penghargaan bergengsi di kompetisi prix art electronica di australia, 2015.

Setidaknya terdapat empat karakter orang-orang yang hebat dan berhasil memenangkan
kompetisi kehidupan. Empat karakter tersebut merupakan gabungan dari cara pandang, sikap, dan tindakan untuk segera melakukannya.

Pertama, agile learner. Menjadi pembelajar yang gesit. Setidaknya ada lima ciri mereka ini, yaitu; suka mempelajari hal baru, cepat beradaptasi, fokus pada tujuan, memiliki prioritas, dan pandai memanfaatkan waktu.

Kedua, inovatif. Inovator adalah orang-orang yang giat belajar dan bekerja, selalu berorientasi ke depan, kaya ide-ide yang cemerlang, berfikir rasional dan selalu berprasangka baik, menghargai waktu dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya, dan terakhir adalah suka melakukan eksperimen-eksperimen dan penelitian.

Ketiga, kreatif. Kreatifitas akan dimiliki oleh seseorang yang selalu memiliki banyak ide, cenderung berani mengambil risiko, peka terhadap keadaan sekitar, mampu mengutarakan imajinasi, dan terbuka terhadap pendapat pihak lain.

Keempat, mengembangkan growth mindset jangan fixed mindset. Growth mindset selalu mengatakan kegagalan adalah kesempatan untuk tumbuh, dan jika saya gagal, maka saya membutuhkan strategi baru. Sedangkan fixed mindset selalu mengatakan, “kegagalan adalah batas kemampuan saya, atau saya baik dal hal ini atau tidak”. Growth mindset selalu optimis, karena ia telah memiliki strategi alternatif dari setiap masalah/kendala yang dihadapi. Selalu ada jalan untuk keluar. Dan, sesungguhnya dalam kesulitan akan ada kemudahan (QS asy-Syarh/94: 5-6).

Jumat, 09 November 2012

Syukur


Jamaah juma'at yang dimulyakan Allah swt
Allah swt telah menetapkan bahwa semua pujian hanyalah untukNya sebagaimana yang terkandung dalam ayat pertama surah al-fatihah. Pujian kita terhadap anak-anak, istri, suami, guru, atasan dan sebagainya seharusnya tujuannya adalah pujian terhadap Allah swt yang telah menciptakan kesempurnaan semuanya. Kedudukan, kepangkatan, harta, dan semua yang kita miliki pada hakekatnya merupakan titipan Allah, kita hanya mempunyai hak pakai saja. Kapan saja bisa diambil oleh Allah sebagai pemilik yang sebenarnya.
Jamaah yang dirahmati Allah swt
Kata syukur adalah bentuk mashdar dari syakara, syaskuru, syukron, wa syukuron, wa syukronan. Kata kerja ini berakar dengan huruf syin, kaaf, dan ro’. Yang mengandung makna “pujian atas kebaikan” dan “penuhnya sesuatu”.
Kata syukur  dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali yang tersebar diberbagai ayat dan surah dalam al-Qur’an. Sementara kata syukuron disebutkan hanya 2 kali, yakni pada S. Al-Furqon: 62 dan S. Al-Insan: 9.
Kata syukuron, pertama kali digunakan ketika Allah swt menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu katsir berpendapat bahwa Allah yang maha suci menjadikan malam dan siang silih berganti, dan kejar mengejar, yang kesemuanya  itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hendaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.
Kata syukuron ke dua terdapat dalam surah al-Insan: 9 yakni;



Ayat tersebut menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-oang fakir dan miskin yang hanya berharap balasan kecuali hanya mencari ridla Allah swt. Hal ini pernah dilakukan oleh Sahabat Sayidina Ali dan istrinya, Siti Fatima (putri rasulullah) memberikan makanan yang sudah dipersiapkan untuk berbuka puasa dengan anak-anak, tiba-tiba datanglah tiga orang penemis lalu makanan untuk keluarga tersebut diberikan kepada mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah didalam siaft-sifat dan mencapi tingkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti balasan dari orang yang diberi tersebut.
Jamaah yang dimulyakan Allah swt
Nikmat yang diberikan Allah swt kepada manusia sangat banyak dan bentuknya bermacam-macam. Setiap detik dalam nafas dan langkah kita selalu ada nikmat Allah. Allah berfirman dalam QS (16:18), “nikmatnya sangat besar dan banyak sehingga bagaimanapun juga manusia tidak akan dapat menghitungnya”. Selanjutnya dalam QS (16:78) difirmankan bahwa sejak manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian diberi Allah pendengaran, penglihatan, dan hati.
Nikmat yang diberikan Allah kepada kita dapat digolongkan menjadi dua mcama, yaitu; nikmat yang menjadi tujuan, dan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan. Nikmat yang menjadi tujuan manusia sesungguhnya adalah kebahagiaan di akhirat, yang ciri-cirinya antara lain; kekal, diliputi oleh kebahagiaan dan kesenangan yang sejati, sesuatu yang sangat mungkin dengan mudah dapat dicapai, dan dapat memenuhi segala kebutuhan manusia. Sedangkan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan abadi di atas, diantaranya meliputi; kebersihan jiwa dan akhlak yang mulian, “kelebihan tubuh” seperti kesehatan, cantik, rupawan, kuat dan lain sebagainya; hal-hal yang membawa kesenangan jasmaniah seperti harta, kekuasaan, dan keluarga; dan terakhir adalah hal-hal yang membawa sifat-sifat keutamaan seperti hidayah, petunjuk, pertolongan dan perlindungan Allah swt.
Jamaah jum’at yang dirahmati Allah swt
Menurut imam al-Ghazali bahwa syukur merupakan salah satu derajat (maqam) tertinggi dari sabar, khouf (takut) kepada Allah swt dan lain-lain. Adapun kesyukuran itu merupakan makam yang mulia dan pangkat yang tinggi sebagaimana firman Allah swt dalah surah al-Nahl ayat 114, artinya, “dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kamu memang hanya menyembah kepada-nya saja”.
Ada tiga cara bersyukur kepada Allah swt, yaitu;
Pertama, bersyukur dengan hati, yakni mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah swt dan tiada seorangpun selain Allah swt yang dapatmemberikan nikmat tersebut.
Kedua, bersyukur dengan lidah, yakni mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat misalnya, “alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt semata”.
Ketiga, bersyukur dengan amal perbuatan, yakni mengamalkan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itusesuai dengan ajaran agama islam.