Jumat, 09 November 2012

Syukur


Jamaah juma'at yang dimulyakan Allah swt
Allah swt telah menetapkan bahwa semua pujian hanyalah untukNya sebagaimana yang terkandung dalam ayat pertama surah al-fatihah. Pujian kita terhadap anak-anak, istri, suami, guru, atasan dan sebagainya seharusnya tujuannya adalah pujian terhadap Allah swt yang telah menciptakan kesempurnaan semuanya. Kedudukan, kepangkatan, harta, dan semua yang kita miliki pada hakekatnya merupakan titipan Allah, kita hanya mempunyai hak pakai saja. Kapan saja bisa diambil oleh Allah sebagai pemilik yang sebenarnya.
Jamaah yang dirahmati Allah swt
Kata syukur adalah bentuk mashdar dari syakara, syaskuru, syukron, wa syukuron, wa syukronan. Kata kerja ini berakar dengan huruf syin, kaaf, dan ro’. Yang mengandung makna “pujian atas kebaikan” dan “penuhnya sesuatu”.
Kata syukur  dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 75 kali yang tersebar diberbagai ayat dan surah dalam al-Qur’an. Sementara kata syukuron disebutkan hanya 2 kali, yakni pada S. Al-Furqon: 62 dan S. Al-Insan: 9.
Kata syukuron, pertama kali digunakan ketika Allah swt menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu katsir berpendapat bahwa Allah yang maha suci menjadikan malam dan siang silih berganti, dan kejar mengejar, yang kesemuanya  itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hendaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.
Kata syukuron ke dua terdapat dalam surah al-Insan: 9 yakni;



Ayat tersebut menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-oang fakir dan miskin yang hanya berharap balasan kecuali hanya mencari ridla Allah swt. Hal ini pernah dilakukan oleh Sahabat Sayidina Ali dan istrinya, Siti Fatima (putri rasulullah) memberikan makanan yang sudah dipersiapkan untuk berbuka puasa dengan anak-anak, tiba-tiba datanglah tiga orang penemis lalu makanan untuk keluarga tersebut diberikan kepada mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah didalam siaft-sifat dan mencapi tingkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti balasan dari orang yang diberi tersebut.
Jamaah yang dimulyakan Allah swt
Nikmat yang diberikan Allah swt kepada manusia sangat banyak dan bentuknya bermacam-macam. Setiap detik dalam nafas dan langkah kita selalu ada nikmat Allah. Allah berfirman dalam QS (16:18), “nikmatnya sangat besar dan banyak sehingga bagaimanapun juga manusia tidak akan dapat menghitungnya”. Selanjutnya dalam QS (16:78) difirmankan bahwa sejak manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian diberi Allah pendengaran, penglihatan, dan hati.
Nikmat yang diberikan Allah kepada kita dapat digolongkan menjadi dua mcama, yaitu; nikmat yang menjadi tujuan, dan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan. Nikmat yang menjadi tujuan manusia sesungguhnya adalah kebahagiaan di akhirat, yang ciri-cirinya antara lain; kekal, diliputi oleh kebahagiaan dan kesenangan yang sejati, sesuatu yang sangat mungkin dengan mudah dapat dicapai, dan dapat memenuhi segala kebutuhan manusia. Sedangkan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan abadi di atas, diantaranya meliputi; kebersihan jiwa dan akhlak yang mulian, “kelebihan tubuh” seperti kesehatan, cantik, rupawan, kuat dan lain sebagainya; hal-hal yang membawa kesenangan jasmaniah seperti harta, kekuasaan, dan keluarga; dan terakhir adalah hal-hal yang membawa sifat-sifat keutamaan seperti hidayah, petunjuk, pertolongan dan perlindungan Allah swt.
Jamaah jum’at yang dirahmati Allah swt
Menurut imam al-Ghazali bahwa syukur merupakan salah satu derajat (maqam) tertinggi dari sabar, khouf (takut) kepada Allah swt dan lain-lain. Adapun kesyukuran itu merupakan makam yang mulia dan pangkat yang tinggi sebagaimana firman Allah swt dalah surah al-Nahl ayat 114, artinya, “dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kamu memang hanya menyembah kepada-nya saja”.
Ada tiga cara bersyukur kepada Allah swt, yaitu;
Pertama, bersyukur dengan hati, yakni mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah swt dan tiada seorangpun selain Allah swt yang dapatmemberikan nikmat tersebut.
Kedua, bersyukur dengan lidah, yakni mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat misalnya, “alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt semata”.
Ketiga, bersyukur dengan amal perbuatan, yakni mengamalkan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itusesuai dengan ajaran agama islam.