Minggu, 31 Januari 2021

Bergerak dalam Kesunyian

 Hukum alam (sunnatullah) berjalan mengikuti prinsip kausalitas. Semua pikiran, ucapan, sikap, dan tindakan seseorang akan kembali padanya. Prinsip kausalitas mengikuti model pantulan cermin. Ketika kita menanam kebaikan, maka akan menuai kebaikan. Sebaliknya, ketika kita menanam keburukan, juga akan menuai keburukan pula. Kebaikan dan keburukan tidak memantul kepada jasad manusia, tetapi kepada jiwa (ruh). Dengan demikian, ada seseorang yang selalu menanam keburukan tetapi kehidupannya terlihat baik-baik saja. Dan, sebaliknya ada orang selalu menanam kebaikan tetapi kehidupannya mengalami kesulitan.

Kehidupan jasad manusia terbatas oleh waktu dan tempat, sementara keberadaan jiwa tidak terbatas oleh keduanya. Pantulan kebaikan dan keburukan selalu kembali, jika tidak pada saat masih bersatunya antara jasad dengan jiwa, maka pasti ia akan memantul pada saat jasad dan jiwa telah berpisah (kematian jasad). Jasad hanyalah asesoris, sementara jiwa adalah eksistensi. Fokus pada pemenuhan asesoris hanya akan menghabiskan waktu, energi, dan, tidak akan mendapatkan apapun, karena akhirnya ia akan tiada. Sementara, jika kita fokus pada pemenuhan eksistensi, maka akan menemui kebahagiaan.

Funniwati Sucipto adalah satu diantara jutaan manusia yang menjadikan spiritualitas agama sebagai energi untuk bergerak menanam karma kebaikan dalam kesunyian. Ia memahami, menghayati, dan menyadari realitas spiritualitas tersebut di atas sebagai karma. Setiap orang memiliki karma, yakni karma baik atau buruk. Karma selalu memantul pada jiwa yang bersangkutan. Karma melihat kita bukan sebagai manusia, tetapi sebagai jiwa, dan tidak pernah gagal menemukan orang dari mana asalnya. Oleh karena itu, selalu mencapainya dan memberinya hasil yang sama beberapa hari, tahun atau kapanpun pada waktu-waktu kemudian.

Titik awal perjalanan spiritualitas Funni adalah pada saat ia merasakan matanya hampir buta. Dokter memvonis pembuluh darah mata kanannya pecah. Funni, menceritakan bahwa suatu ketika kedua matanya tertutup total, tidak bisa melihat dan bekerja lagi. Pada saat terpuruk itu, terdapat dua hal yang menyadarkannya. Pertama, teman-temannya menasehati bahwa ini adalah saat karma sudah berbuah, maka memperbanyak kebaikan pada sesama adalah jalan untuk merubah karma. Kedua, dalam kondisi terpuruk itu, kedua orang tuanya selalu membantu pengobatannya. Dia merasa bersalah, mengapa? Ia berfikir, “seharusnya orang yang berambut hitam tidak boleh hidup dalam belas-kasihan orang yang sudah berambut putih, yakni ibu”.

Pada saat kelopak putih matanya disuntik oleh oleh dokter, ia tidak berasa sakit. Justru ia membayangkan pada saat itu bejalan di hutan yang sangat sunyi. Dalam kesunyian di hutan itu, ia dapat mendengar rintihan dan penderitaan orang-orang yang tidak mampu, dan membutuhkan pertolongan. Ia semakin sadar bahwa bergerak (karma) dalam kesunyian adalah takdir yang harus dijalankan. Pemaknaan karma Funni ini, memberikan pembelajaran bagi kita semua bahwa bisikan jiwa dalam kesunyian adalah kebenaran, dan selalu menghantarkannya untuk berbuat baik.

Pengobatan, kemo, dan suntik secara rutin di dalam negeri belum berbuah hasil yang baik. Mata kanan Funni semakin memburuk, mengalami perdarahan berkali-kali. Jalan satu-satunya harus dioperasi. Ia berusaha berobat ke bangkok, dan terakhir di Singapura. Dokter menyarankan segera dioperasi, kalau tidak akan terjadi komplikasi yang lebih parah. Resikonya, selain terus mengalami perdarahan, juga mengakibatkan retina matanya lepas (saat itu sudah seperempat yang lepas). Dokter meyakinkan bahwa 95% operasi akan berhasil. Sebagai karyawan, tentu ia tidak memiliki biaya operasi, karena kebaikan semua teman-temannya diberbagai media sosial, ia mendapatkan bantuan untuk biaya operasi sekitar Rp. 210 juta. Kini mata Funni kembali sehat.

Ia sadar, bahwa ini adalah takdir. Baginya takdir bisa dirubah dengan melakukan suatu kebaikan (karma). Kesadaran spiritualitas ini membuka mata hatinya, dan berdoa kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk berbagi pada sesama. Pada tahun 2015, ia memulai usaha pempek funny. Ia mengambil keuntungan Rp. 1000,-. Rp. 500,- dari keuntungan tersebut ia gunakan untuk membantu oarang-orang yang sedang membutuhkan. Pertama kali, tahun 2015 dari keuntungan berdagang itu ia mengundang anak-anak jalanan, 30 anak untuk berbuka puasa bersama. Ia merasa bahagia, Tuhan telah menjawab doanya, diberi kesempatan untuk berbagi pada sesama.

Semakin lama usaha Funni dikenal oleh masyarakat. Banyak yang menjadi relawan dan berdonasi untuk gerakan berderma Funni ini. Saat artikel ini ditulis, follower IG-nya (pempek_funny) berjumlah 86,6 ribu. Funni berhasil membangkitkan energi positif dari keterpurukannya, ia menjadi inisiator dan menginspirasi banyak orang untuk selalu berbagi pada sesama. Sampai saat ini, gerakannya berhasil menyalurkan milliaran rupiah kepada orang-orang yang sakit. Ia juga telah membeli sebuah ambulan yang peruntukkan bagi para lansia dan orang-orang yang tidak mampu secara gratis. Bahkan, ia juga membangun rumah singgah untuk orang-orang luar kota yang sedang berobat di Jakarta.

Kebaikan yang dilakukan Funni melahirkan sejuta energi positif. Menjelma menjadi gerakan bersama kebaikan di Indonesia untuk semua orang. Kesedihan dan kebahagiaan selalu silih berganti hadir dalam sandiwara kehidupan manusia. Dan, rasa kemanusiaan yang didasarkan pada ketakwaan kepada Tuhan akan melahirkan perilaku baik pada semua orang, yang melintasi batas-batas geografi dan agama. “Bantulah orang-orang dengan hati yang benar, karena hanya karma yang baik yang bisa menolong kamu di saat kamu susah”. Tegas Funni.

Energi positif tidak hanya mengalir menggerakkan rasa kemanusiaan, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi di kampung. Usaha Funni mendorong tumbuhnya usaha ekonomi pempek di kampungnya, Lubuk Linggau. Tidak hanya saudara-saudaranya yang berkembang usahanya melalui pasar yang dikembangnya, tetapi juga pengusaha pempek lainnya di kampung. Bahkan, beberapa artis membantu meng-endors pempek_funni. Relawan yang membantu memasarkan pempek_funni dan berderma semakin banyak. Akhirnya, Funni telah berhasil memaknai kesedihan, dan kesulitan sebagai jalan spiritualitas Budhis dalam mengembangkan semangat hidup bagi semua orang.

Jumat, 29 Januari 2021

Si Anak TPA jadi Milliarder

Edisi tulisan saya kali ini dan beberapa edisi berikutnya, mengangkat tema “bangkit dari keterpurukan”. Ketertarikan menulis tema ini adalah agar secara pribadi menjadi energi positif, dan bermanfaat untuk semua orang. Prinsip yang perlu kita tanamkan pada diri sendiri bahwa fokus pada tujuan adalah penting, karena semua akan indah pada waktunya.

Setiap makhluk dan semua planet di muka bumi ini berjalan sesuai dengan poros atau porsinya masing-masing. Poros masing-masing individu sudah ditetapkan. Jika ia disiplin pada poros dan berotasi sesuai kodrat potensi kemanusiaannya, maka ia akan mencapai puncak keindahan diwaktu yang mungkin berbeda antara individu satu dengan individu lainnya. Tetapi, sebaliknya apabila ia keluar dari porosnya, maka ia akan terpelanting dan jatuh.

Esra Manurung adalah sosok pribadi yang patut dijadikan inspirasi. Ia dilahirkan dari kelurga miskin, bapaknya supir angkot. Rumahnya saat itu dekat dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, di Cilincing, Jakarta. Ibunya meninggal saat ia berusia 18 tahun. Bapaknya kehilangan keseimbangan dan meninggalkannya dengan 4 adik-adiknya. Dalam pikirannya, ia harus meneruskan atau mengakhiri hidup bersama adik-adiknya. Ia merasa betul-betul jatuh terpuruk.

Pikirannya, saat itu, selalu menyuruh untuk bunuh diri, tetapi ia merasa kasihan pada adik-adiknya. Dia, juga benci Tuhan. Baginya, Tuhan tidak ada, dia merasa sendiri dalam keterpurukan. Dia juga benci pada bapaknya, yang begitu saja meninggalkan dirinya dan adik-adiknya tanpa kabar yang jelas. Dia berada pada titik, mengakhiri hidup atau membantu adik-adiknya.

Untung, dia memiliki tante yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Meskipun tantenya juga miskin, tetapi kadang masih bisa berbagi dengan dia dan adik-adiknya. Esra selalu mengingat pesan ibunya dan menjadi prinsip keluarga, yaitu hidup miskin harus tetap belajar (sekolah) dan ingat Tuhan. Dua prinsip ini yang menjadi lentera dan oase hidupnya.

Esra, tetap melanjutkan kuliah di Universitas Kristen Jakarta. Untuk menopang semua kebutuhan hidupnya, dia mulai jualan jepitan rambut, mengajar les privat keliling semua penjuru Jakarta. Usaha demikian masih belum cukup untuk membiayai kebutuhan primer diri  dan adiknya-adiknya. Lagi-lagi, dia masih terbersit untuk mengakhiri hidup, bunuh diri. Dia masih benci dengan Tuhan.

Setelah lama menghilang, ada kabar baru, bapaknya mau kembali dengan istri barunya, dan dua anaknya. Esra masih dendam dan benci bapaknya. Lagi-lagi, dia ingin mengakhiri hidupnya. Tetapi dia ingat pesan ibunya untuk tetap ingat Tuhan. Saat itulah, dia kembali membuka al-kitab. Pesan pertama yang dia baca agar memaafkan. Dia sadar, bapaknya hanya melakukan satu kesalahan, mengapa tidak dimaafkan saja. Akhirnya, dia memaafkan bapaknya.

Lentera menyala kembali, saat ia menang dalam lomba karya tulis ilmiah, kemudian mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Dia terus menebar kebaikan dan mengajar les privat keliling. Saat menjelang akhir kuliah, ada orang tua/wali murid yang baik. Setelah lulus kuliah, dia diajak bekerja di sebuah bank. Pekerjaan di bank ini ia tekuni selama 9 tahun, ia merasa jenuh, dan memutuskan keluar.

Dia mengikuti pandangan suaminya bahwa bekerja jangan mencari uang, tetapi bekerja untuk belajar. Akhirnya, ia menerima saran suaminya untuk bekerja di asuransi. Dia merasa bebas, dapat terus belajar, dan dapat mengatur kerjanya sebagai agen asuransi. Di perusahaan asuransi inilah, dia sukses, dan menerima penghargaan dari asosiasi asuransi dunia sebagai ambassador million dollar round table. Keren, dia sekarang menjadi pemateri di Amerika, Eropa, dan kota-kota di Indonesia.

Metamorfosis yang dialami Esra keren banget. Selain milliarder, dia menjadi penulis, dan mendirikan sebuah yayasan maharani kirana pertiwi di Cilincing, Jakarta. Yayasan ini fokus memberdayakan ibu-ibu untuk menjadi ibu rumah tangga, istri, dan wanita karir, sebagaimana makna namanya, yaitu perempuan yang unggul menjadi cahaya bangsa. Semoga akan bermunculan Esra dan Esra lainnya. 👧

Kamis, 28 Januari 2021

Polarisasi Pengabdian Dosen


Segala puji bagi Allah swt, dzat yang memiliki alam semesta beserta isinya. Mudah-mudahan kita semua selalu mendapat bimbingan-Nya, dan dapat meneladani Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw telah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berkarya mengembangkan potensi diri dan potensi alam semesta. Sebagaimana sabdanya, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Karena alam semesta dihamparkan oleh Allah swt agar menusia memanfaatkannya sebagai media atau laboratorium bagi manusia untuk memaksimalkan potensi tugas utamanya sebagai khalifah dan pemakmur bumi ini.

Allah swt pertama kali mengajarkan nama-nama benda (kata benda) kepada Nabi Adam as memiliki makna bahwa dengan mengenali semua benda-benda di alam semesta ini akan menjadikan manusia mampu menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjadi pemakmur bumi memiliki arti hendaknya manusia dapat menemukan sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi diri dan komunitasnya. Oleh karena itu, mengajarkan kata benda agar manusia dapat mengemban tugas menjadi pemakmur bumi. Potensi, kemampuan, dan pengalaman langsung dari Allah swt demikian ini tidak dimiliki oleh bangsa Jin dan Malaikat. Mengapa? Ya karena Allah swt tidak menghendaki Jin dan Malaikat sebagai khalifah di bumi.

Tugas manusia adalah menyatukan unsur-unsur benda yang telah dihamparkan Allah swt, baik sebagai pengetahuan maupun teknologi untuk mendukung tercapainya tugas utamanya, memakmurkan bumi. Sangat banyak sekali benda-benda yang telah diajarkan kepada Nabi Adam as dan umat manusia, mulai dari bakteri dan/atau virus sampai yang tampak oleh panca indera manusia. Agar dapat menyatukan, meningkatkan nilai atau bermanfaat, maka manusia harus terus mempelajari, memahami, dan meneliti, serta mengimplementasikannya di masing-masing komunitas. Misalnya, dalam QS. Al-Anbiya/21: 30, Allah swt menjelaskan tentang awal mula kejadian alam semesta. Disitu dijelaskan pemisahan langit dan bumi diikuti oleh berhamburnynya  unsur-unsur kimiawi dan biologi. Di akhir ayat tersebut, Allah swt menekankan agar manusia melakukan penelitian untuk menyatukan semua unsur-unsur tersebut sehingga menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setiap manusia memiliki potensi dan keterbatasan. Keluasan potensi yang dimiliki manusia bersifat terbatas. Terbatas oleh waktu, terbatas oleh potensi yang dimiliki oleh individu-individu lainnya. Dan, terbatas oleh ruang lingkup kemampuannya. Misalnya ada individu yang memiliki kepandaian, tetapi hal demikian juga dibatasi oleh kepandaian individu lainnya. Temuan individu dibatasi juga oleh temuan individu lainnya, atau dibatasi oleh waktu. Relatifitas kemampuan, ilmu pengetahuan dan teknologi meniscayakan pentingnya kerjasama antara individu satu dengan individu lainnya. Kerjasama demikian memungkinkan berkembangnya potensi individu, juga berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang diharapkan bermanfaat bagi kemakmuran manusia dan alam semesta.

Ada tiga subyek kerjasama, yaitu; kerjasama antara individu satu dengan individu lain, individu dengan masyarakat (komunitas), dan antara komunitas satu dengan komunitas lainnya. Berkembangnya beragam subyek-subyek yang melakukan kerjasama membantu mempercepat, dan mempermudah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemakmuran bumi. Dosen, yang memiliki tugas utama tri darma perguruan tinggi dapat memanfaatkan keniscayaan kerjasama demikian dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kemampuan akademik, riset, dan network yang ada di perguruan tinggi dapat membantu mengakselerasi tujuan pembangunan. Kemampuan konseptual dan teoritik di kalangan dosen perlu diimplementasikan melalui kerjasama pengabdian dosen dengan kelompok-kelompok (komunitas) di masyarakat.

Pola pengabdian selama ini yang dilaksanakan oleh para dosen di IAIN Tulunggaung dapat dipolakan menjadi dua, yaitu; Pertama, peningkatan keyakinan dan pengetahuan keagamaan. Kedua, peningkatan kemampuan ketrampilan. Bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan keyakinan (teologi) dan pengatahuan keagamaan diantaranya adalah ceramah, pengajian, khutbah, dan seminar.  Sedangkan, bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan ketrampilan diantaranya pendidikan dan pelatihan (diklat); misalnya pengolahan limbah untuk mendukung ekonomi keluarga dan kebersihan lingkungan, beternak , pemanfaatan kain perca, dan ketrampilan khusus untuk meningkatkan performance profesi. Kedua pola pengabdian dosen ini sebenarnya merupakan pendalaman dan implementasi pengetahuan teoritik masing-masing dosen dan bentuk respon situasi eksternal lingkungan sosialnya.

Mengajar, meneliti, dan mengabdi merupakan satu kesatuan tugas utama dosen. Melaksanakan kuliah di kampus merupakan kegiatan pengembangan teoritik dan konseptual, kegiatan ini murni akademik. Melakukan penelitian merupakan upaya penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diharapkan mampu menjadi sumber rujukan/data untuk memperkuat, dan/atau mengganti teori-teori yang diajarkan kepada para mahasiswa di kampus. Sedangkan, melaksanakan pengabdian merupakan bentuk implementasi dari hasil penelitian, dan juga dapat dijadikan rujukan pembelajaran di kampus. Dengan demikian, ketiga unsur tri darma perguruan tinggi ibarat tiga muka dimensi piramida. Keberadaan satu muka menyempurnakan piramida tersebut. Hilangnya satu unsur tri darma perguruan tinggi ini menyebabkan eksistensi dosen tidak sempurna.

Belum banyak dosen yang bersedia melaksanakan secara seimbang dan terintegrasi dianatara tiga unsur tri darma perguruan ini. Untuk itu, lembaga terus mendorong dan mensupport dalam bentuk program dan penganggaran. Dukungan anggaran pengabdian dosen diperuntukkan untuk dosen-dosen di masing-masing program studi (prodi). Dukungan ini dimaksudkan selain untuk meningkatan kemampuan, ketrampilan dan network dosen, juga dimaksudkan untuk mendekatkan prodi-prodi dengan masyarakat.  Kedekatan antara prodi/lembaga perguruan tinggi dengan masyarakat dapat meningkatkan dampak positif keberadaan perguruan tinggi di masyarakat. Karena, pada dasarnya hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat bersifat resiprokal. Keberadaan perguruan tinggi hendaknya bermanfaat untuk kebaikan masyarakat, dan keberadaan masyarakat dapat dijadikan sebagai laboratorium untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi dan profesionalitas para dosen.

IAIN Tulungagung berusaha terus mendorong para dosen untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, baik secara perorangan maupun berkelompok, atau bergabung dengan lembaga-lembaga profesi dan/atau lembaga swadaya masyarakat. Bergabungnya dosen dengan lembaga-lembaga di luar IAIN Tulungagung  yang fokus melakukan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berfungsi untuk mengasah dan meningkatkan ketrampilan dan profesional dosen. Untuk itu, dukungan IAIN Tulungagung, khususnya di fakultas ushuludin adab dan dakwah (FUAD) terus dilakukan oleh pimpinan, baik dalam bentuk penganggaran, support program, dukungan ketrampilan teknis, maupun pengembangan dan pengayaan gagasan. Sasaran dari supporting demikian, selain pada umumnya ditujukan agar berdampak pada masyarakat, khususnya juga untuk meningkatkan ketrampilan profesionalitas dosen.

Dukungan pimpinan fakultas tidak hanya pada level perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program pengabdian dosen, tetapi juga mendorong penerbitan buku hasil pengabdian dosen. Usaha demikian dimaksudkan untuk; menumbuhkan ketrampilan literasi, mewariskan budaya pengabdian dan penulisan kepada generasi penerus di fakultas, dan desiminasi best parcatice pengabdian dosen ke publik. Pimpinan secara khusus mengucapkan terimaaksih kepada para dosen yang terus mendedikasikan pikiran, tenaga, dan profesionalitasnya untuk pengembangan fakultas, juga kepada sdr. Dr. Ngainun Naim yang tidak mengenal lelah mengembangkan budaya literasi, khususnya pada para dosen muda di fakultas ushuludin adab dan dakwah (FUAD), IAIN Tulungagung. Kami berharap, semoga buku pertama kumpulan hasil pengabdian para dosen ini bermanfaat dan menginspirasi untuk terus melakukan kebaikan di masyarakat.



 

Senin, 25 Januari 2021

Jadilah future practice, bukan best practice.

       Sejak dekade 66-an Cooleman, dari hasil penelitiannya mengungkapkan school dasn’t travel. Tidak mungkin sekolah-sekolah yang baik, bermutu, atau efektif dapat dicangkok ke sekolah-sekolah lain (schools cannot be grafted). Ada banyak faktor, mengapa suatu sekolah, lembaga, atau seseorang itu sukses. Sampai sekarang saya masih menyangsikan program sekolah penggerak, apalagi dengan jargon belajar dari lembaga-lembaga yang memiliki best practice. Belajar pada pihak lain yang lebih dulu sukses hanya akan menjadikan diri kita, lembaga kita sebagai followers.

Tidak banyak followers yang sukses, dan menjadi yang terdepan. Apalagi, kehidupan selalu tidak bisa diprediksi, karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat dinamis. Oleh karena itu, kita harus menciptakan, bukan followers. Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln pernah mengatakan, “the best way to predict the future is to creat it”. Cara terbaik memprediksi masa depan ya, menciptakannya. Maka, tinggalkanlah menjadi followers jika ingin sukses.

Di kalangan masyarakat juga ada istilah amati, tiru, dan modifikasi (ATM). Lha ini apalagi. Lihat saja, mereka yang berhasil bukan meniru-niru dan memodifikasi, tetapi membuat sesuatu yang berbeda dan futuristic. Misalnya facebook, wa, grab, alibaba, dll. Membuat sesuatu yang unik atau tidak banyak dilakukan oleh orang juga perlu dipertimbangkan. Contohnya XXLAB berhasil menyulab air limbah tahu menjadi sepatu dan produk fashion lainnya. Keuinikan dan kreatifitasnya mengantarkannya mendapatkan penghargaan bergengsi di kompetisi prix art electronica di australia, 2015.

Setidaknya terdapat empat karakter orang-orang yang hebat dan berhasil memenangkan
kompetisi kehidupan. Empat karakter tersebut merupakan gabungan dari cara pandang, sikap, dan tindakan untuk segera melakukannya.

Pertama, agile learner. Menjadi pembelajar yang gesit. Setidaknya ada lima ciri mereka ini, yaitu; suka mempelajari hal baru, cepat beradaptasi, fokus pada tujuan, memiliki prioritas, dan pandai memanfaatkan waktu.

Kedua, inovatif. Inovator adalah orang-orang yang giat belajar dan bekerja, selalu berorientasi ke depan, kaya ide-ide yang cemerlang, berfikir rasional dan selalu berprasangka baik, menghargai waktu dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya, dan terakhir adalah suka melakukan eksperimen-eksperimen dan penelitian.

Ketiga, kreatif. Kreatifitas akan dimiliki oleh seseorang yang selalu memiliki banyak ide, cenderung berani mengambil risiko, peka terhadap keadaan sekitar, mampu mengutarakan imajinasi, dan terbuka terhadap pendapat pihak lain.

Keempat, mengembangkan growth mindset jangan fixed mindset. Growth mindset selalu mengatakan kegagalan adalah kesempatan untuk tumbuh, dan jika saya gagal, maka saya membutuhkan strategi baru. Sedangkan fixed mindset selalu mengatakan, “kegagalan adalah batas kemampuan saya, atau saya baik dal hal ini atau tidak”. Growth mindset selalu optimis, karena ia telah memiliki strategi alternatif dari setiap masalah/kendala yang dihadapi. Selalu ada jalan untuk keluar. Dan, sesungguhnya dalam kesulitan akan ada kemudahan (QS asy-Syarh/94: 5-6).