Hukum alam (sunnatullah) berjalan mengikuti prinsip kausalitas. Semua pikiran, ucapan, sikap, dan tindakan seseorang akan kembali padanya. Prinsip kausalitas mengikuti model pantulan cermin. Ketika kita menanam kebaikan, maka akan menuai kebaikan. Sebaliknya, ketika kita menanam keburukan, juga akan menuai keburukan pula. Kebaikan dan keburukan tidak memantul kepada jasad manusia, tetapi kepada jiwa (ruh). Dengan demikian, ada seseorang yang selalu menanam keburukan tetapi kehidupannya terlihat baik-baik saja. Dan, sebaliknya ada orang selalu menanam kebaikan tetapi kehidupannya mengalami kesulitan.
Kehidupan
jasad manusia terbatas oleh waktu dan tempat, sementara keberadaan jiwa tidak
terbatas oleh keduanya. Pantulan kebaikan dan keburukan selalu kembali, jika
tidak pada saat masih bersatunya antara jasad dengan jiwa, maka pasti ia akan
memantul pada saat jasad dan jiwa telah berpisah (kematian jasad). Jasad
hanyalah asesoris, sementara jiwa adalah eksistensi. Fokus pada pemenuhan
asesoris hanya akan menghabiskan waktu, energi, dan, tidak akan mendapatkan
apapun, karena akhirnya ia akan tiada. Sementara, jika kita fokus pada
pemenuhan eksistensi, maka akan menemui kebahagiaan.
Funniwati
Sucipto adalah satu diantara jutaan manusia yang menjadikan spiritualitas agama
sebagai energi untuk bergerak menanam karma kebaikan dalam kesunyian. Ia
memahami, menghayati, dan menyadari realitas spiritualitas tersebut di atas sebagai
karma. Setiap orang memiliki karma, yakni karma baik atau buruk. Karma selalu
memantul pada jiwa yang bersangkutan. Karma melihat kita bukan sebagai manusia,
tetapi sebagai jiwa, dan tidak pernah gagal menemukan orang dari mana asalnya.
Oleh karena itu, selalu mencapainya dan memberinya hasil yang sama beberapa
hari, tahun atau kapanpun pada waktu-waktu kemudian.
Titik
awal perjalanan spiritualitas Funni adalah pada saat ia merasakan matanya
hampir buta. Dokter memvonis pembuluh darah mata kanannya pecah. Funni,
menceritakan bahwa suatu ketika kedua matanya tertutup total, tidak bisa
melihat dan bekerja lagi. Pada saat terpuruk itu, terdapat dua hal yang
menyadarkannya. Pertama, teman-temannya menasehati bahwa ini adalah saat karma
sudah berbuah, maka memperbanyak kebaikan pada sesama adalah jalan untuk
merubah karma. Kedua, dalam kondisi terpuruk itu, kedua orang tuanya selalu
membantu pengobatannya. Dia merasa bersalah, mengapa? Ia berfikir, “seharusnya
orang yang berambut hitam tidak boleh hidup dalam belas-kasihan orang yang
sudah berambut putih, yakni ibu”.
Pada
saat kelopak putih matanya disuntik oleh oleh dokter, ia tidak berasa sakit.
Justru ia membayangkan pada saat itu bejalan di hutan yang sangat sunyi. Dalam
kesunyian di hutan itu, ia dapat mendengar rintihan dan penderitaan orang-orang
yang tidak mampu, dan membutuhkan pertolongan. Ia semakin sadar bahwa bergerak
(karma) dalam kesunyian adalah takdir yang harus dijalankan. Pemaknaan karma
Funni ini, memberikan pembelajaran bagi kita semua bahwa bisikan jiwa dalam
kesunyian adalah kebenaran, dan selalu menghantarkannya untuk berbuat baik.
Pengobatan,
kemo, dan suntik secara rutin di dalam negeri belum berbuah hasil yang baik.
Mata kanan Funni semakin memburuk, mengalami perdarahan berkali-kali. Jalan
satu-satunya harus dioperasi. Ia berusaha berobat ke bangkok, dan terakhir di
Singapura. Dokter menyarankan segera dioperasi, kalau tidak akan terjadi
komplikasi yang lebih parah. Resikonya, selain terus mengalami perdarahan, juga
mengakibatkan retina matanya lepas (saat itu sudah seperempat yang lepas).
Dokter meyakinkan bahwa 95% operasi akan berhasil. Sebagai karyawan, tentu ia
tidak memiliki biaya operasi, karena kebaikan semua teman-temannya diberbagai
media sosial, ia mendapatkan bantuan untuk biaya operasi sekitar Rp. 210 juta.
Kini mata Funni kembali sehat.
Ia
sadar, bahwa ini adalah takdir. Baginya takdir bisa dirubah dengan melakukan
suatu kebaikan (karma). Kesadaran spiritualitas ini membuka mata hatinya, dan
berdoa kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk berbagi pada sesama. Pada
tahun 2015, ia memulai usaha pempek funny. Ia mengambil keuntungan Rp. 1000,-.
Rp. 500,- dari keuntungan tersebut ia gunakan untuk membantu oarang-orang yang
sedang membutuhkan. Pertama kali, tahun 2015 dari keuntungan berdagang itu ia
mengundang anak-anak jalanan, 30 anak untuk berbuka puasa bersama. Ia merasa
bahagia, Tuhan telah menjawab doanya, diberi kesempatan untuk berbagi pada
sesama.
Semakin
lama usaha Funni dikenal oleh masyarakat. Banyak yang menjadi relawan dan
berdonasi untuk gerakan berderma Funni ini. Saat artikel ini ditulis, follower
IG-nya (pempek_funny) berjumlah 86,6
ribu. Funni berhasil membangkitkan energi positif dari keterpurukannya, ia
menjadi inisiator dan menginspirasi banyak orang untuk selalu berbagi pada
sesama. Sampai saat ini, gerakannya berhasil menyalurkan milliaran rupiah
kepada orang-orang yang sakit. Ia juga telah membeli sebuah ambulan yang
peruntukkan bagi para lansia dan orang-orang yang tidak mampu secara gratis.
Bahkan, ia juga membangun rumah singgah untuk orang-orang luar kota yang sedang
berobat di Jakarta.
Kebaikan
yang dilakukan Funni melahirkan sejuta energi positif. Menjelma menjadi gerakan
bersama kebaikan di Indonesia untuk semua orang. Kesedihan dan kebahagiaan selalu
silih berganti hadir dalam sandiwara kehidupan manusia. Dan, rasa kemanusiaan yang
didasarkan pada ketakwaan kepada Tuhan akan melahirkan perilaku baik pada semua
orang, yang melintasi batas-batas geografi dan agama. “Bantulah orang-orang
dengan hati yang benar, karena hanya karma yang baik yang bisa menolong kamu di
saat kamu susah”. Tegas Funni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar