Selasa, 16 Februari 2021

Pengetahuan, dan Niat untuk Sukses

 


Motive berprestasi merupakan salah satu faktor penting untuk meraih sukses studi. Untuk itu, orang tua dan guru perlu usahakan iklim yang kondusif. 16/02/2021. @Prof. Rochmat Wahab

Niat (intention), dalam konsep Islam merupakan unsur penting dalam suatu perbuatan (perilaku). Perbuatan baik yang tidak disertai niat tidak akan memiliki nilai. Oleh karena itu, dalam melakukan perbuatan baik (amal sholeh) hendaknya diawali dengan niat untuk mencari ridlo Allah swt. Allah swt, sesungguhnya merupakan tujuan tertinggi dalam hidup dan kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan tertinggi ini diperlukan tujuan-tujuan antara sesuai situasi dan kondisi kehidupan manusia. Misalnya makan, tujuannya adalah agar badan kita menjadi sehat. Sehat dapat menjadi kunci untuk melaksanakan ibadah-ibadah dan amal sholeh lainnya secara maksimal. Maksimal atau berkualitasnya amal sholeh merupakan tujuan antara, agar mencapai ridlo Allah swt. Dengan demikian, tujuan antara dalam kehidupan ini sejatinya adalah dalam rangka untuk mencapai tujuan tertinggi, yaitu Allah swt.

Tujuan-tujuan dalam setiap perbuatan seseorang merupakan kondisi terakhir dari aktualisasi suatu niat. Bentuk eskpresi niat ada dua, yaitu; niat yang dipendam dalam hati, dan niat yang diucapkan dalam suara. Kedua ekspresi niat ini diperlukan untuk menguatkan langkah dan aktualisasi perbuatan baik. Setiap perbuatan yang dilandasi dengan niat, maka perbuatan tersebut biasanya dilaksanakan secara terstruktur. Sementara, setiap perbuatan yang dilaksanakan tanpa didasari dengan niat, maka biasanya perbuatan tersebut terlaksana secara tidak beraturan. Dengan demikian, niat memegang fungsi kunci tercapainya tujuan perbuatan secara efektif dan efisien. Disinilah, diantara maknanya hadits yang menjelaskan tentang pentingnya niat dalam setiap perbuatan seseorang. Baik, niat (intention) terucapkan maupun sirri sama-sama penting, untuk menguatkan hati dalam mencapai tujuan perbuatan.

Intensi (niat) merupakan indikator seberapa kuat usaha seseorang atau berapa banyak usaha yang dilakukan untuk menunjukkan suatu perbuatan (Ajzen, 2005). Lebih lanjut, Ajzen mengungkapkan bahwa faktor penting terbentuknya niat adalah sikap. Sikap merupakan kecendrungan untuk berekasi secara afektif. Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari dan bagaimana seseorang berekasi terhadap situasi serta menetukan apa yang dicari dalam kehidupan (Slameto, 2003). Selain itu, sikap juga dapat dimaknai sebagai bentuk evaluasi atau reaksi seseorang terhadap suatu obyek, apakah kemudian ia memihak atau menolak, baik pada tataran perasaan, pemikiran, dan tindakan (Saifudin, 2005). Oleh karena itu, sikap adalah hal penting yang dapat dilihat dan ditafsirkan untuk memprediksi niat perbuatan seseorang. Selain itu, bahwa sikap adalah bentuk ekspresi dari pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek.

Apapun sikap seseorang terhadap suatu obyek selalu didasarkan pada pengetahuannya terhadap obyek tersebut. Disinilah letak pentingnya, mengapa Islam menempatkan usaha manusia untuk mengetahui obyek (belajar, menuntut ilmu). Hal pertama kali yang dilakukan Allah swt setelah keinginan-Nya untuk menjadikan Adam a.s sebagai khalifah di bumi adalah mengajarkan nama-nama benda (QS. Al-Baqarah/2: 31-32). Pengetahuan tentang benda-benda disekitar Adam a.s akan menjadikannya dapat menyusun unsur-unsur dan senyawa yang dihamparkan Allah swt di bumi ini untuk kelangsungan hidup dan kehidupan. Wahyu yang pertama dari Kenabian Muhammad saw adalah perintah membaca (iqra’) (QS al-‘Alaq/96: 1-5). Membaca dan memiliki pengetahuan adalah esensi dalam kesejatian muslim. Kualitas keislaman seseorang ditentukan oleh seberapa kuat usahanya untuk menuntut ilmu (belajar).   

Pengetahuan yang komprehensif tentang suatu obyek akan menentukan sikap seseorang untuk menerima atau menolak kondisi obyek. Dari pengetahuan yang baik inilah terhadap suatu obyek akan melahirkan sikap menyukai atau tidak menyukai obyek tersebut. Sikap menyukai atau tidak menyukai selanjutnya menuntun niat (intention) seseorang terhadap obyek. Sementara, niat (intention) menjadi tonggak lahirnya kecenderungan (motive) untuk merealisasikan obyek tersebut dalam hidup dan kehidupannya. Motive, tidak akan dimiliki oleh seseorang yang tidak memiliki pengetahuan, sikap, dan niat untuk merealisasikannya. Niat (intention) yang tidak didasarkan pada pengetahuan tentang suatu obyek, maka kualitas motive-nya sangat lemah. Sedangkan niat (intention) yang didasarkan pada pengetahuan yang komprehensif terhadap suatu obyek, maka kualitas motive-nya sangat kuat/tinggi.

Disinilah letak rahasianya, mengapa Islam menempatkan orang yang mau belajar (menuntut ilmu, belajar al-Qur’an) sebagai orang yang paling utama. “Dari Utsman bin Affan, ia berkata; Nabi Muhammad saw bersabda, orang yang paling utama diantara kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR, Bukhari). Nomor 4640 shahih. Usaha untuk mengetahui suatu obyek secara komprehensif merupakan esensi ajaran Islam. Memiliki pengetahuan yang baik terhadap suatu obyek, akan menuntun keyakinan (keimanan) seseorang  untuk mencapai tujuannya (tujuan antara dan/atau tujuan tertinggi) dengan baik. Dengan demikian, apapun keinginan kita terhadap suatu obyek jika didasarkan pada pengetahuan tentangnya, maka keinginan tersebut akan diusahakan secara sunguh-sungguh, maksimal, disiplin, dan terstruktur.

Menurut teori achievement motivation bahwa seseorang yang memiliki kebutuhan (need) untuk mencapai hasil (prestasi) yang kuat, maka ia akan mudah mencapainya (McClelland, 2005). Berbagai indikasi seseorang dengan need for achivement (n-ach) tinggi lebih memilih mengambil resiko yang memiliki peluang sukses. Seseorang dengan n-ach tinggi memiliki keinginan yang kuat untuk mengambil tanggung jawab pribadi untuk melaksanakan tugas, dan cenderung untuk menetapkan tujuan yang sulit, serta memiliki keinginan untuk mendapatkan umpan balik bagi kinerjanya. Seseorang yang memiliki motivasi kuat untuk sukses, baik dalam belajar maupun bekerja, maka cenderung ia melakukannya secara sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam suatu usaha ditentukan oleh beberapa unsur, diantaranya; memiliki niat (intention) kuat, bertindak efektif, berkolaborasi, berfikir positif, dan bersikap proaktif.

Berfikir, bersikap, dan bertindak positif haruslah didukung oleh faktor eksternal yang baik. Faktor eksternal seseorang yang berpengaruh cukup signifikan, diantaranya adalah lingkungan keluarga, tempat belajar/bekerja, dan lingkungan pergaulan. Meminjam teorinya Berns (2004) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap karakter dan/atau motive seseorang adalah microsystems, mesosystems, exosystems, dan macrosystems. Dalam konteks belajar, misalnya orang tua, sekolah dan masyarakat perlu mengusahakan situasi dan kondisi lingkungan sosial yang baik bagi tumbuh kembangnya motive-motive yang baik bagi setiap individu anak. Orang tua perlu menciptakan lingkungan sosial pembelajar di rumah. Menciptakan suasana rumah yang mendukung keinginan anak untuk selalu membaca, misalnya menyediakan variasi sumber bacaan, menentukan dan mentaati bersama jam-jam belajar anak, dan menunjukkan sikap dan perilaku yang proaktif belajar.

Sekolah perlu mengusahakan suasana dan kondisi yang aman, nyaman, aman, dan menyenangkan bagi proses belajar anak. Belajar hakikatnya adalah usaha menumbuh-kembangkan dan memaksimalkan potensi-potensi anak. Setiap anak memiliki potensi dan karakter yang berbeda, untuk itu perlakukan terhadapnya juga harus unik dan beragam. Memang ini tidak mudah, apalagi dalam suasana persekolahan di Indonesia yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk kepentingan pragmatisme. Pengelolaan persekolahan yang cenderung dikendalikan oleh pusat, baik pada tataran kebijakan sampai pada tataran teknis di lapangan. Menggeneralisasi masalah-masalah persekolahan oleh Kementrian yang begitu kuat, sehingga mematikan daya kreatifitas dan inovasi pemerintah daerah dan kepala sekolah. Seharusnya, wilayah Kementrian adalah wilayah kebijakan, sementara pemerintah daerah dan kepala sekolah adalah wilayah implementor secara otonom sesuai dengan situasi kondisi lingkungan sosial sekolah masing-masing.

Kementrian pendidikan jangan hanya fokus pada kebijakan dan mengontrol persekolahan. Hendaknya ada kolaborasi kebijakan dengan kementrian lainnya agar tercipta suasana lingkungan sosial di masyarakat yang baik. Kerjasama antar tokoh agama, pendidikan, pengusaha, politkus, dan budayawan adalah mutlak diperlukan. Memang ini kondisi ideal, dan tidak mudah, karena setiap tokoh-tokoh di masyarakat memiliki tujuan, keinginan, dan harapan yang berbeda. Cara yang termudah adalah jadilah orang tua yang bijak. Bijak dalam memilihkan lingkungan sosial pergaulan anak, bijak dalam menciptakan suasana dan kondisi keluarga yang mendukung  anak menjadi pembelajar. Tidak membiarkan kondisi eksternal sosial anak mengendalikan kita, tetapi justru kita-lah yang mengendalikan dan menontrol lingkungan sosial eksternal untuk memuluskan dan menjadikan anak-anak memiliki karakter pembelajar sehingga potensi-potensinya berkembang dengan baik.

Daftar Pustaka

Ajzen, I. (2005). Attitudes, Personality And Behaviour. New York. Open University Press.

Berns, Roberta M. (2004). Child, family, school, community. Socialization and support (sixth edition). Australia. Thomson wadsworth

McClelland, David. (2005). Achievement motivation theory. Organizational behavior: Essential theories of motivation and leadership, 46-60.

Saifudin, A. (2005). Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar