Jumat, 19 Maret 2021

SESEKALI MAMPIRLAH

 Bagaimana bisa perahu berjalan melawan angin, jika hanya aku yang mendayung? 
Sementara,kamu berjalan mengikuti arah mata angin

Ingatlah heroiknya Ibrahim muda, ia melwan tradisi nenek moyang dan bapaknya dalam menyembah berhala. Naluri keagamaan Ibrahim a.s membisikkan bahwa berhala bukanlah Tuhan. Berhala tidak dapat memberi manfaat atau mudlorot apapun terhadap manusia, bahkan nyatanya manusia-lah yang membuat berhala itu. Ibrahim a.s juga melakukan pengembaraan pengetahuan ketuhanan, mula-mula asumsi yang dikembangkan bahwa matahari sebagai tuhan, lalu bulan, bintang-bintang dan lain-lain, tetapi nyatanya eksistensi semuanya hanya sementara. Oleh karena itu, Ibrahim a.s kemudian meniadakan semuanya sebagai tuhan. Ia meyakini bahwa kelanggengan eksistensi obyek merupakan ciri utama ketuhanan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan bersifat relatif, karenanya tidak layak diyakini sebagai tuhan.

Ibrahim a.s juga pernah mengalami dillematis, yaitu saat bermimpi untuk menyembelih anaknya, Ismail a.s. Di satu sisi, ia meragukan mimpinya, karena kehadiran anak (Ismail a.s) dalam rumah tangganya telah ditunggu sangat lama. Bahkan Ibrahim a.s pernah berdoa dan bersumpah (mengikuti tradisi kaumnya) bahwa jika dikaruniai anak maka akan disembelih sebagai bentuk pengorbanan dan ketaatannya terhadap tuhan. Dipihak lain, ia meragukan bahwa tidak mungkin Tuhan memerintahkannya menyembelih Ismail a.s. Selain itu, dillematis yang dialami Nabi Ibrahim a.s yaitu apakah mengikuti perintah mimpi (wahyu) sebagai bentuk ketaatannya terhadap Tuhan, atau mengesampingkan wahyu karena mebih mencintai anak (keluarga). Dualisme cinta yang dialami Nabi Ibrahim a.s sesungguhnya merupakan sumber dillematis kehidupannya.

Kehidupan setiap manusia adalah perjalanan yang dimulai dari proses memilih. Pengalaman penglihatan, pengetahuan akal, pengetahuan oleh penginderaan, dan pengetahuan dari nurani adalah bagian dari hal-hal yang selalu dipertimbangkan dalam proses memilih. Sudah jamak dialami bahwa pertimbangan dalam memilih adalah pengetahuan positifistik, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari penginderaan dan pengalaman dari banyak orang lain. Perahu yang kita tumpangi selalu dibiarkan berjalan mengikuti arah mata angin. Bahkan sebagian dari kita lebih suka mengikuti, meniru dan menjadikan orang lain sebagai modeling dalam hidup dan kehidupan. Model kehidupan kita adalah kebanyakan orang-orang yang sukses, artis, tokoh, dan orang-orang yang kita cintai. Ya tentu, sukses dalam makna indrawiyah. Kita lebih menyukai berjalan dalam keramaian dan sedih dalam kesendirian.

Arah mata angin tidaklah abadi, kesuksesan indrawiyah (kekayaan, kepangkatan, ketenaran) adalah oase, keramaian selalu diakhiri oleh kesepian, dan rasa apapun dalam pikiran dan hati adalah sementara. Sesekali mampirlah pada hati nuranimu. Bersenang-senanglah dalam kesendirian, berbahagialah saat kau dekat dengan hatimu, menangis-bahagialah saat banyak orang menjauhimu. Itu-lah moment penting yang harus kau nantikan, agar kau dapat melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan kesalahan sebagai kesalahan. Keramaian hanyalah fatamorgana, penuh kamuflase dan warna, membutakan penglihatan, membekukan hati, dan mematikan rasa. Arah mata angin tidak selalu menunjukkan tujuan hidup yang benar, ia mengandung gaya gravitasi yang luar biasa kuatnya sehingga dapat menarikmu pada “black hole”  di Samudra atlantik.

Sesekali mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus berteduh pada cortex prefrontalist (CP). Ini adalah harta terpendam yang dimiliki manusia. Kebanyakan kita mengikuti arah mata angin yang dianjurkan oleh system limbic (SL), yang tentu menghancurkan sisi kemanusiaan kita. SL bekerja secara reflek, dan menyukai “keramaian”, menyukai modelling, dan cenderung mengabaikan hati nurani. Sekali mampir ke CP maka tetap-kuatlah di sana. CP akan menguatkan hati nurani, menyuarakan kebenaran hakiki, memilihkanmu pada pilihan hidup yang benar, dan selalu akan menjadi lentera yang menunjukkan pada arah akal smart kemanusian. Berbeda dengan ahli neuro science, al-Ghozali menyebut CP dengan istilah qolbun saliim (QS). CP atau QS adalah titik nadi pusat kemanusiaan yang dapat mencerahkan pada kesadaran kritis individu (meminjam istilah Pailo Freire), ia berada di depan atas bagian otak manusia.

Sesekali mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus menangis. Menangis adalah ungkapan kesedihan, kegembiraan, kerinduan, dan kecintaan. Robi’ah al-Adawiyah setiap saat menangis, sedih dan takut jika ibadahnya kurang sempurna. Ketidaksempurnaan ibadah bisa secara lahiriah dan spiritulitas. Seringkali kali kita mengabaikan, memudahkan, dan menggampangkan, bahkan mencampurkannya dengan tujuan-tujuan duniawi. Ibadah menjadi tidak tulus, tidak jujur, dan tidak sempurna secara batiniah. Robi’ah al-Adawiyah mengangis dan beristighfar bukan terhadap kesalahannya, tetapi dari ketidaksempurnaan ibadahnya, bahkan ia beristighfar dari istighfarnya (baca: ibadah), kalimatnya yang terkenal adalah, “istighfaaruna yahtaaju ilaa istaghfaarin”. Menangis karena terlalu mencintai diri agar tidak masuk lubang black hole, menangis karena tidak dapat memulyakan orang-orang di sekitar, dan menangis karena dirinya belum bermanfaat bagi orang-orang lainnya.

Sesekali mampirlah...Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus beralih dari ketidak-beragamaan ke beragama. Sering kita merasa lebih baik dari lainnya dalam beragama; mengikuti jamaah sholat lima waktu, mengerjakan puasa, dan mengikuti berbagai majlis taklim dan dzikir tetapi abai pada lainnya. Membiarkan teman jatuh dalam ketidakberdayaan, tidak peduli pada lingkungan sekitar, lebih merasa aman dari zona diri sendiri dan Tuhannya. Beragama adalah untuk melembutkan hati, merendahkan pikir, manyatukan diri dengan Tuhan dan lingkungan sosial sekitarnya. Beragama adalah untuk menata kebaikan pikir, sikap, dan perilaku. Dan, beragama adalah untuk menjadikan diri sebagai subyek yang memiliki kepeduliaan tulus pada diri, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya.

Sesekali mampirlah. Tidak perlu malu jika suatu saat kau harus lebih peduli terhadap intonasi bisikan intuisimu. Intuisi bersumber dari alam bawah sadar manusia. Ia selalu membisikkkan hal-hal kecil tetapi sering berdampak luas dari setiap masalah-masalah yang dihadapi manusia. Sering kita tidak menyadari dan mengabaikan bisikan itu, dan kemudian hari kita menyadari bahwa bisikan intuisi itu ternyata jalan keluar dari masalah yang ada. Otak manusia memiliki beberapa bilik (corner), dua diantaranya yaitu bagian sadar dan tidak sadar. Otak kiri merupakan bagian otak sadar yang bekerja lebih lambat, rasional. Ia bekerja berdasarkan fakta, pengalaman, dan kesadaran pengetahuan obyektif. Sedangkan alam bawah sadar (tidak sadar) diatur oleh otak kanan yang bekerja lebih cepat. Intiuisi diatur, dan dikendalikan oleh otak bawah sadar, dan biasanya muncul saat manusia tidak fokur berfikir. Berdasarkan hasil riset bahwa kebanyakan orang yang sukses terbantu oleh sistem intuisi dalam setiap pengambilan kepeutusan.

Sesekali mampirlah...terkadang kita perlu menyendiri dalam kegelapan, menjauhi ramai dan gemerlapnya cahaya. Dalam diri manusia terdapat dua cahaya, yaitu; cahaya yang bersumber dari dunia eksternalnya dan cahaya yang bersmber dari dunia internal manausia (hati). Cahaya yang bersumber dari dunia eksternal sering kali menipu, direkayasa, dan menyilaukan. Cahaya ini selalu mengagumkan dalam bentuk beragam warna. Semua orang menyukainya, bahkan dalam perayaan hari tertentu kita sengaja menyalakan warna warni cahaya, ya semua tampak bahagia, meski terkadang bahagia semu. Sementara, cahaya yang bersumber dari dunia internal manusia juga bisa komplek, penuh warna atau sebaliknya. Cahaya ini sangat subyektif, dapat menghadirkan rasa dan melembutkan pikir. Robi’ah al-Adawiyyah merasa nyaman dan bahagia berada dalam kegelapan dan kesendirian di bilik tempat sujudnya yang seperti genangan air, tempat itu selalu dibanjiri air matanya.

Akhirnya, untuk kesekian kalinya kita lebih senang mampir pada hati kita. Hati kita adalah sumber pengetahuan hakiki yang selalu menunjukkan jalan kebahagiaan nyata. Hati kita selalu menerima kita dalam bentuk yang jelek sekalipun, ia selalu mau memaafkan dan membimbing kita dari kegelapan dalam keramaian kearah keramaian dalam kegelapan dan kesendirian kita. Hati kita adalah sumber ilmu, sebagaimana Ibrahim a.s telah menemukan ilmu dan pengetahuan ma’rifatnya sehingga ia lebih mementingkan cinta kepada Allah swt ketimbang keluarganya. Ini terlihat sadis, tetapi nyatanya yang disembelih Ibrahim a.s adalah nafsu cinta dunia (hubbu al-dunya). Nafsu inilah yang merupakan cikal malapetaka diri, keluarga, dan masyarakat, bahkan negara. Baiklah, yuk sesekali mampir pada hati kita yang terdalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar