Kamis, 28 Januari 2021

Polarisasi Pengabdian Dosen


Segala puji bagi Allah swt, dzat yang memiliki alam semesta beserta isinya. Mudah-mudahan kita semua selalu mendapat bimbingan-Nya, dan dapat meneladani Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw telah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berkarya mengembangkan potensi diri dan potensi alam semesta. Sebagaimana sabdanya, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. Karena alam semesta dihamparkan oleh Allah swt agar menusia memanfaatkannya sebagai media atau laboratorium bagi manusia untuk memaksimalkan potensi tugas utamanya sebagai khalifah dan pemakmur bumi ini.

Allah swt pertama kali mengajarkan nama-nama benda (kata benda) kepada Nabi Adam as memiliki makna bahwa dengan mengenali semua benda-benda di alam semesta ini akan menjadikan manusia mampu menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjadi pemakmur bumi memiliki arti hendaknya manusia dapat menemukan sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi diri dan komunitasnya. Oleh karena itu, mengajarkan kata benda agar manusia dapat mengemban tugas menjadi pemakmur bumi. Potensi, kemampuan, dan pengalaman langsung dari Allah swt demikian ini tidak dimiliki oleh bangsa Jin dan Malaikat. Mengapa? Ya karena Allah swt tidak menghendaki Jin dan Malaikat sebagai khalifah di bumi.

Tugas manusia adalah menyatukan unsur-unsur benda yang telah dihamparkan Allah swt, baik sebagai pengetahuan maupun teknologi untuk mendukung tercapainya tugas utamanya, memakmurkan bumi. Sangat banyak sekali benda-benda yang telah diajarkan kepada Nabi Adam as dan umat manusia, mulai dari bakteri dan/atau virus sampai yang tampak oleh panca indera manusia. Agar dapat menyatukan, meningkatkan nilai atau bermanfaat, maka manusia harus terus mempelajari, memahami, dan meneliti, serta mengimplementasikannya di masing-masing komunitas. Misalnya, dalam QS. Al-Anbiya/21: 30, Allah swt menjelaskan tentang awal mula kejadian alam semesta. Disitu dijelaskan pemisahan langit dan bumi diikuti oleh berhamburnynya  unsur-unsur kimiawi dan biologi. Di akhir ayat tersebut, Allah swt menekankan agar manusia melakukan penelitian untuk menyatukan semua unsur-unsur tersebut sehingga menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setiap manusia memiliki potensi dan keterbatasan. Keluasan potensi yang dimiliki manusia bersifat terbatas. Terbatas oleh waktu, terbatas oleh potensi yang dimiliki oleh individu-individu lainnya. Dan, terbatas oleh ruang lingkup kemampuannya. Misalnya ada individu yang memiliki kepandaian, tetapi hal demikian juga dibatasi oleh kepandaian individu lainnya. Temuan individu dibatasi juga oleh temuan individu lainnya, atau dibatasi oleh waktu. Relatifitas kemampuan, ilmu pengetahuan dan teknologi meniscayakan pentingnya kerjasama antara individu satu dengan individu lainnya. Kerjasama demikian memungkinkan berkembangnya potensi individu, juga berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang diharapkan bermanfaat bagi kemakmuran manusia dan alam semesta.

Ada tiga subyek kerjasama, yaitu; kerjasama antara individu satu dengan individu lain, individu dengan masyarakat (komunitas), dan antara komunitas satu dengan komunitas lainnya. Berkembangnya beragam subyek-subyek yang melakukan kerjasama membantu mempercepat, dan mempermudah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemakmuran bumi. Dosen, yang memiliki tugas utama tri darma perguruan tinggi dapat memanfaatkan keniscayaan kerjasama demikian dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kemampuan akademik, riset, dan network yang ada di perguruan tinggi dapat membantu mengakselerasi tujuan pembangunan. Kemampuan konseptual dan teoritik di kalangan dosen perlu diimplementasikan melalui kerjasama pengabdian dosen dengan kelompok-kelompok (komunitas) di masyarakat.

Pola pengabdian selama ini yang dilaksanakan oleh para dosen di IAIN Tulunggaung dapat dipolakan menjadi dua, yaitu; Pertama, peningkatan keyakinan dan pengetahuan keagamaan. Kedua, peningkatan kemampuan ketrampilan. Bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan keyakinan (teologi) dan pengatahuan keagamaan diantaranya adalah ceramah, pengajian, khutbah, dan seminar.  Sedangkan, bentuk-bentuk kegiatan untuk meningkatkan ketrampilan diantaranya pendidikan dan pelatihan (diklat); misalnya pengolahan limbah untuk mendukung ekonomi keluarga dan kebersihan lingkungan, beternak , pemanfaatan kain perca, dan ketrampilan khusus untuk meningkatkan performance profesi. Kedua pola pengabdian dosen ini sebenarnya merupakan pendalaman dan implementasi pengetahuan teoritik masing-masing dosen dan bentuk respon situasi eksternal lingkungan sosialnya.

Mengajar, meneliti, dan mengabdi merupakan satu kesatuan tugas utama dosen. Melaksanakan kuliah di kampus merupakan kegiatan pengembangan teoritik dan konseptual, kegiatan ini murni akademik. Melakukan penelitian merupakan upaya penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diharapkan mampu menjadi sumber rujukan/data untuk memperkuat, dan/atau mengganti teori-teori yang diajarkan kepada para mahasiswa di kampus. Sedangkan, melaksanakan pengabdian merupakan bentuk implementasi dari hasil penelitian, dan juga dapat dijadikan rujukan pembelajaran di kampus. Dengan demikian, ketiga unsur tri darma perguruan tinggi ibarat tiga muka dimensi piramida. Keberadaan satu muka menyempurnakan piramida tersebut. Hilangnya satu unsur tri darma perguruan tinggi ini menyebabkan eksistensi dosen tidak sempurna.

Belum banyak dosen yang bersedia melaksanakan secara seimbang dan terintegrasi dianatara tiga unsur tri darma perguruan ini. Untuk itu, lembaga terus mendorong dan mensupport dalam bentuk program dan penganggaran. Dukungan anggaran pengabdian dosen diperuntukkan untuk dosen-dosen di masing-masing program studi (prodi). Dukungan ini dimaksudkan selain untuk meningkatan kemampuan, ketrampilan dan network dosen, juga dimaksudkan untuk mendekatkan prodi-prodi dengan masyarakat.  Kedekatan antara prodi/lembaga perguruan tinggi dengan masyarakat dapat meningkatkan dampak positif keberadaan perguruan tinggi di masyarakat. Karena, pada dasarnya hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat bersifat resiprokal. Keberadaan perguruan tinggi hendaknya bermanfaat untuk kebaikan masyarakat, dan keberadaan masyarakat dapat dijadikan sebagai laboratorium untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi dan profesionalitas para dosen.

IAIN Tulungagung berusaha terus mendorong para dosen untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, baik secara perorangan maupun berkelompok, atau bergabung dengan lembaga-lembaga profesi dan/atau lembaga swadaya masyarakat. Bergabungnya dosen dengan lembaga-lembaga di luar IAIN Tulungagung  yang fokus melakukan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berfungsi untuk mengasah dan meningkatkan ketrampilan dan profesional dosen. Untuk itu, dukungan IAIN Tulungagung, khususnya di fakultas ushuludin adab dan dakwah (FUAD) terus dilakukan oleh pimpinan, baik dalam bentuk penganggaran, support program, dukungan ketrampilan teknis, maupun pengembangan dan pengayaan gagasan. Sasaran dari supporting demikian, selain pada umumnya ditujukan agar berdampak pada masyarakat, khususnya juga untuk meningkatkan ketrampilan profesionalitas dosen.

Dukungan pimpinan fakultas tidak hanya pada level perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan program pengabdian dosen, tetapi juga mendorong penerbitan buku hasil pengabdian dosen. Usaha demikian dimaksudkan untuk; menumbuhkan ketrampilan literasi, mewariskan budaya pengabdian dan penulisan kepada generasi penerus di fakultas, dan desiminasi best parcatice pengabdian dosen ke publik. Pimpinan secara khusus mengucapkan terimaaksih kepada para dosen yang terus mendedikasikan pikiran, tenaga, dan profesionalitasnya untuk pengembangan fakultas, juga kepada sdr. Dr. Ngainun Naim yang tidak mengenal lelah mengembangkan budaya literasi, khususnya pada para dosen muda di fakultas ushuludin adab dan dakwah (FUAD), IAIN Tulungagung. Kami berharap, semoga buku pertama kumpulan hasil pengabdian para dosen ini bermanfaat dan menginspirasi untuk terus melakukan kebaikan di masyarakat.



 

5 komentar: